erry amanda

Saya tidak mengenal bangku sekolah, nyaris malas baca buku. tak pernah ribut tentang jati diri. apa yang saya lakukan tak pernah saya timbang dengan “matra budi”, sebab apa pun yang saya tahu, semua hanya derivat dari sebuah bangunan kemahaan Sang Agung, Allah SWT, tak lebih.

Orang yg berusaha mengembangkan ilmu pengetahuannya matra yg dipergunakan bukan STANDAR KEMAMPUANNYA TAPI ADALAH STANDAR KETIDAK MAMPUANNYA, jika standar kemampuan yg dipergunakan, sesungguhnya orang tsb tdk ke mana2.

“erry amanda”

       

Jujur, pagi ini sebagai orang tua, ga tahu tingal berapa digit lagi waktu yang diijinkan Allah SWT, kami meneteskan air mata. Ketahuilah, KALIAN ADALAH KELUARGA KAMI, SAHABAT KAMI, do'a kalian senantiasa yg memberi kekuatan selama ini. Biarlah airmata pagi ini ALlah mengetahu, betapa besar kasih sayang kami kepada kalian. Bahagia menyertai kalian... (erry amanda)

 

==Kritikikan  Sosial==

==Maulid Artifisial

==Berdoa Apa Mengeluh?

==Semar Sang Jiwa Pamong

==Human Agony (Misteri Kesengsaraan Manusia)

==Kenaifan Kang Jamil

==Teori evolusi

==Arctic jadi lautan baru

==Detosinasi sosial

==Sejenak hentikan arogansi

==Seksonomi siluman postmoralitas

==Akankah muncul laut baru di Ethiopia

==Citra anak bangsa bukan sekedar seremonial

==Menampar angin di jendela tak tembus pandang

==Membaca tanda-tanda di langit

==Ujian serta peringatan untuk siapa..???


==Sajak sajak Sampah==

==Torture Song

==Renung II

==Renung

==Ratu Malam

==Larut

==Phutu Ayu Kanggo Embayu ku

==Kanugrahan Sedina

==Jegjeg lan Tuhu

==Tripama Watak Satria

==Candra Purnama

==Taman Hati Buat Edelweis ku

==Song From A Secret Garden

==Menuang Cinta Di Sembarang Citra

==Memandang Indonesia

==Inikah Mawar Yang Kau Harapkan?

==Pantatilun-pantatilung

==Sajak untuk diri sendiri

==Mari kubasuh mukamu nak

==Sajak tiga

==Sajak-sajak yang tercecer

==Sebuah tiang

==Sebuah Kidung

==Percakapan lugu

==Dua menatap langit jiwa

==Ketika cinta tak lagi bertasbih


==Lain-lain==

==Mengatasi rasa sakit pusing


Administrator 
Muhammad Irfan