PERCAKAPAN LUGU


PERCAKAPAN LUGU

Memandang langit MU dhuh Gusti, gulita di siang atau malam dalam gumamku atau geramku
di sini aku terlantar di kediaman sendiri, aku telah mengasingkan diriku dalam debu
aku takut menatap siapa pun
aku takut bicara kepada siapa pun
aku takut menampakkan wujudku kepada siapa pun
aku ndak tahu kemana merebahkan kepala untuk sekadar menentramkan kantuk sebentar saja agar aku bisa mimpi seperti mimpi mimpi moyang atau bapa biyungku sedang tidur pun aku terbirit-birit kejepit di liang ketakutan jika pun mimpi hiruk pikuk mengganas di mana pun aku mencoba menikmati mimpi atau aku sudah benar-benar tak punya mimpi

dulu, dulu sekali, aku ndak tahu kapan dan jaman apa
bau keringat atau suara-suara hewani atau gojegan biyung matun di lembah gunung atau dentang cangkul beradu tanah kemarau panjang
atau anak-anak pulang sekolah melambai-lambaikan bendera kertas
berlangkah gagah: tuk wak, tuk wak
kaki berdebu tak bersepatu
dan aku tak mengatakan itu jaman maju dan ndak pamer masa lalu
aku hanya ingin bangga pada langitku masa itu
kini lewat mimpi saja aju dihajar tabu

berkelok-kelok, berliuk-liuk,berbentang-bentang langkah berderap laju jauh dan menjauh terompah-terombah jaman, katanya, membumbung di langi lain, entah langit siapa aku memang ndak pernah tahu hingga aku kian ragu memilih langitku hanya sekadar sebagai atap di mana aku merindu
dan dalam diam angin berganti desirnya bercampur sayup-sayup gendhing pupuh Serat Adi Luhung kemudian lenyap di antara joget jungkir balik yang entah

dan di lorong asing ini aku makin ndak punya wajah
pupur apalagi gincu dulu aku pernah merindu
kini ndak lagi aku mau, bukan aku malu tapi justru tak dipantaskan untukku
menyebut tuhan pun aku harus sembunyi-sembunyi di dasar jiwaku
sebab aku menyaksikan jubah salat telah berkerumun lalat
dan aku kian takut berkhianat

dan biarkan aku selalu berada di emperan jaman dan terasingkan
agar aku ndak ikut terseret di dalamnya

26 Nopember 2009
erry amanda
catatan: gojegan = sendau gurau; matun = menyiangi tanaman padi tuk wak = satu — dua (baris-berbaris); Serat Adi Luhung = kitab suci (al Qur’an); pupur = bedak, gincu = pemerah bibir.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: