CITRA ANAK BANGSA BUKAN SEKADAR SEREMONIAL SEJARAH PERJUANGAN MASA SILAM


CITRA ANAK BANGSA BUKAN SEKADAR SEREMONIAL SEJARAH PERJUANGAN MASA SILAM

Pengantar Ceramah SCIENCE & SPIRITUAL ISLAMIC COMMUNITY, REVIVALIST ISLAMIC COMMUNITY
oleh: Prof. DR. E. Hayatullah al Rasyid
(Erry Amanda)

Saya tidak lahir di Indonesia, Australia, afrika, Arap, Amerika, Spanyol, Inggris, Jerman, Perancis, Yunani dan seterusnya, namun saya lahir di Bimi Tuhan. Bertepatan saja saya bersuku Jawa yang berada di bagian bumi bernama Indonesia. Sebagai bagian kecil dari Anak Bangsa Negeri ini, saya berkewajiban: mencintai, menghormati dan sekaligus bangga di mana saya dilahirkan, di bumi.

Pertikaian idea membangun sebuah peradaban atau tata nilai kehidupan dalam bingkai “kebersamaa” (mengganti istilah ‘nasionalisme’ suatu kelompok kebangsaan) sesusungguhnya sama sekali bukan barang baru. Ia, pertikaian itu sendiri, adalah ‘sikap dasar manusia’ yang purbani, muasal atau genotip, bawaan.

Jika rancagan nilai kebersamaan disodorkan senantiasa bermuara dan bersandar atas nilai ikatan sepenanggungan menjalani sejumlah resiko kehidupan dengan tata norma konsensi yang dirumuskan secara bersama dan aklamatif – namun dalam perjalanannya kemudian, mengapa justru rancang bangun norma luhur kebersamaan tersebut tiba-tiba berubah menjadi pusaran badai perpecahan dan petaka kemanusiaan, baik antar komunitas sempit hingga pada antar bangsa?

Mengapa ikatan kebersamaan yang kemudian melahirkan teorema freedom being, kebebasan manusia menggali potensi diri dan alam, pada gilirannya justru malah melahirkan kotak-kotak arogansi kedibyaan kelompok atau kebangsaan dan berhenti pada petaka kemanusiaan yang di sebut sebagai penjajahan, agresi atau penindasan dan perang. Unity peradaban yang kemudian disebut disebut sebagai globalitas tidak memberikan wujud lain selain semakin tebal dan beratnya roda penggilas kemanusiaan dengan cap dagang idea atas nama menjalin kerja sama untuk kepentingan bersama dan bahkan mengangkat issue kesetaraan derajat seluruh bangsa di bumi ini.

Label impian siang hari yang ditiupkan melalui wadah wah/ PBB, tetap saja mimipi buruk dan ludah pecundang Negara-negara maju yang mewabah di Negara berkembang dan berakhir pada syndrome kehidupan, baik yang memabukan hingga pada terpenggalnya rasa kebanggaan pada negeri sendirir dan mengagungkan produsen racun peradaban.

Ini adalah salah satu jalur utama, main stream, lepuhnya nilai kebangsaan di dalam diri anak bangsa, di samping orde kepemimpinan nasional yang dibaptis kedalam struktur kepentingan dalam percepatan pola penghancuran yang disebut sebagai dekonstruksi dan restrukturisasi di segala bidang yang memabukan para pengambil keputusan di suatu republic dan kesadaran berbangsa pun pupus. Nyanyi sunyi Indonesia Raya kian samara ditingkap tembang riuh peradaban karaoke jalanan. Dan kita pun tak sempat mempertanyakan pada diri sendiri, bahwa, “…masih pantaskah kita disebut sebagai anak bangsa….>yang berdaulat dan masih bangga saat sang saka dwi warna berkibar, kendati pada hari-hari biasa di luar seremonial 17-an?”

Atau hanya mereka yang punya kesempatan mengerek merah putih di halaman istana Negara, Paskibraka, saja yang masih memiliki getaran nilai kebesaran negerinya? Jujur saja, 70 sampai 85% penghuni republic ini sudah meraa asing pada negerinya sendiri, benderanya sendiri termasuk lagu kebangsaannya sendiri, kalau toh hafal, itu pun hanya terhenti sebagai hafalan kurikulum sekolahan. Soal yang terakhir tadi – memang bukan monopoli sikap anak bangsa negeri ini saja, lebih dari separuh penduduk jagad ini juga tak merasa terusik ketika tak hafal lagu kebangsaannya. Di Indonesia, perhelatan nasional akan lebih gegap menyanyikan tembang Gebyar Gebyar – nya Alm. Gombloh ketimbang Indonesia Raya – nya Wage Rudolf Supratman.

Teorema Tipisnya Nilai Sebuah Kebangsaan

Tak mudah menenun kembali serpihan nilai kemanusiaan diatas prahara politik yang sempat merobek kesatuan anak bangsa negeri ini. Koyakan nilai kemanusiaan ditandai petaka nasional G 30 S PKI yang diam diam telah memacu kendaraan monolitik penguasa negeri ini pada pasca PKI. Singkatnya, kesadran bernegara, berbangsa termasuk kebanggan sebagai anak bangsa hanya dibuktikan oleh selembar sertifikat penataran P4 serta kartu sakti Bebas G 30 S PKI. Merah putih hanya marak di tengah demo dan bukan symbol kemandirian suatu bvangsa yang berdaulat. Atau termasuk di dalamnya ‘hanya sebagai jargon intimidasi monoloyalitas’. Degup jiwa nasionalisme hanya sebuah ritme kecil dari riak besar perubahan dalam pemahaman sejarah bangsa (yang maaf, ikut carut marut).

Jejalan kisah romantisme pemberantasan pengkhianatan PKI menjadi main frame sebuah tontonan ’iklan ’ layar lebar kehidupan dengan sutradara tunggal. Tiga dasa warsa anak-anak negeri ini tidur nyenyak dari kesadaran, bahwa mereka adalah manusia yang di besarkan di bawah atap suatu Negara yang berpanji Merah Putih. Geram atas kekejaman PKI menjadi sebuah icon politik yang haram atas ajaran Marxis dan busung dada sebagai anak bangsa yang 100% beragama.

Kendati soal yang terakhir pun tak jauh beda dengan symbol nasionalisme yang pura-pura dan suprafisial. Berlindung di bawah Merah Putih senantiasa tak lebih dari hanya sekedar ’antri ’ jadi amtenar atau kekuasaan. Dalang ‘tanah sabrang’ dengan hegemoninya yang sembunyi dibalik issue kemanusiaan dan kebersamaan bernama globalitas (baca: nasionalisme strukturalis Barat yang mendekonstruksi sebuah peradaban yang setara dan tunduk dalam satu faham) – kian mengkristalkan ketidaksadaran, bahwa mereka lahir dibumi pertiwi ini.

Diluar mirisnya tangan hantu kapitalismen – tiap hari melajukan desiring mechine, mesin hasrat, untuk senantiasa mereka semakin fasih bagaimana mengenakan jubah kebesaran sebagai masyarakat dunia. Keterpurukan ekonomi yang membariskan manusia-manusia Indonesia terkapar di lembah ‘dendam ketidakberdayaan’, kondisi ini pun kian mewujudkan ketidak pedulian anak negeri ini menghargai tanah-tumpah darah sendiri.

Laci jawab sebuah keterpurukan selalu bersifat semboyan yang teramat indikatif dan verbal. ‘Cinatilah Karya Bangsa Sendiri’, ‘Aku Cinta Indonesia’. Iklan sampah model ini tak pernah terjadi di negeri mana pun. Ethiopia pun tak pernah meneriakan iklan ‘debu jalanan’ model ini. Lebih menyedihkan lagi, sehebat apapun hasil karya anak negeri ini, hasil produk yang bertaraf internasional pun, sebut saja salah satu di antaranya, mesin traktor (mesin-mesin pertanian), tak satu pun yang berani mengakui sebagai hasil karya anak negeri.

Jika pun masih menggunakan merek dengan bahasa sendiri – itu pun punya konotasi merek luar, macam: Prorateg (Produksi Rakyat Tegal), Saizaku(Jawa: sebisaku), Ishakuiki
(Jawa: Bisaku Ini) dan masih banyak lagi. Benar, jawabannya adalah image pasar dan pangsa pasar.

Jika saja bangsa besar negeri ini punya harga diri, punya rasa percaya diri, tidak serba wah bikinan sebrang, punya kebanggan sebagai bangsa merdeka, Merah Putih bukan ’sisa sobekan’ bendera penjajah (sobekan Merah Putih Biru- nya negeri kincir angin, Belanda) yang berkonotatif ’mental warisan penjajah’, maka kibaran Sang Saka Dwi Warna tidak terasa pucat manakala berdampingan di antara deretan bendera-bendera bangsa lain. Merek Paijo akan menjadi lucu ketika harus berhadapan dengan merek Suzuki, Yamaha, Merzedes Bens, dan sebangsanya – padahal merek-merek wah tadi adalah nama seseorang. Lantas mengapa bangsa ini sejak ’kala bendu’ tak berani ’buka dada?’ Termasuk seniman tanaman yang insinyur pertanian dan mampu mengangkat derajat tanaman perdu menjadi lahan bisnis ratusan juta, Greg Hambali, ia juga tak terlalu berani memberi nama lain selain nama Latin, kalau toh ada masih bersifat berbanding jauh.

Hasil silang terakhir dari perdu adonema masih bernama asing, Ruby. Ini tidak salah dalam urusan bisnis di negeri ini yang secara umum masih mabuk nama ’asing’. Apa boleh buat! Sementara negeri ini masih mengimport produk luar negeri, Jerman, Korea, Inggris, Jepang dan Cina, dari halaman sendiri dan kita mengeksport produk ke negeri produsennya sendiri, kita masih harus lapang dada untuk tidak mengusik perihal nasionalisme. Yang lebih sakit, membeli kimono di Jepang ternyata bikinan Pekalongan atau Bali. Ini artinya mengimport barang dari halaman sendiri.

Keganjilan sosial negeri ini kian meruak. Sosiolatahiah yang pernah saya utarakan secara canda waktu itu terasa menjadi sangat nyata. Kadang sering ada pertanyaan perih secara diam-diam, adakah sebagian besar penduduk negeri ini sudah bukan anak negeri sendiri, alias asing? Mari kita perhatikan di hampir seluruh pasar swalayan (hypermart), mal-mal, cafe-cafe, pusat makanan dan jajanan, semua menggunakan bahasa asing. Toko-toko pakaian, apakah menggunakan kata rabat (potongan harga) sebagai pengganti discount terasa memalukan? Jika penggunaan bahasa asing tersebut bukan semata-mata ditujukan pembeli asing, sebut saja agar lebih nampak modern dan merasa sudah menjadi manusia megapolis, maka benar, tak harus hirau dengan soal nasionalisme. Sebut saja basi.

Kesadaran Nasionalisme Tumbuh Dari Relung Jiwa

Saya masih ingat dan pedih manakala sebuah pepatah lama yang di pergunakan sebagai falsafah besar dunia, ’…apalah artinya memiliki segalanya dan menguasai dunia kalau tidak memiliki jiwa…” Kita belum pantas disebut sebagai bangsa yang memiliki segalanya dan ’jiwa’ pun tak memilikinya – jika tak bisa disebut sebagai ’digadaikan’. Benar, negeri ini loh jinawi, kaya raya, namun bukan anak negeri ini yang kenyang atas kekayaan alamnya sendiri. Benar juga, lantaran kita tidak memilki jiwa besar sebagai anak bangsa, saking kayanya – semua orang jadi onkang-ongkang, silang kaki sambil menghitung kemelaratan dan memproduk kemalasan sembari menunggu berkah Ilahi.

Sebenarnya, mencintai bangsa, negara dan tanah air sendiri tidak harus menunggu perintah yang bersifat birokrasi. Nilai kesatuan dan kebangsaan bukan struktur organisasi yang bersifat famlet atau sertifikat, bukan lembaga formal, ia, kebangsaan itu sendiri, tumbuh dari kesadaran, dari degup jiwani setiap individu. Ia tak perlu dibuktikan dengan tiap hari teriak ’MERDEKA’, menempelkan lambang negara di dada. Ia adalah nyanyian jiwa dari dalam diri setiap individu tanpa harus diingatkan oleh statement-statement politik. Para penegak kebenaran negeri ini tidakterlalu mengotori tangannya sendiri ”dengan mengubah jalan sejarah bangsa sendiri.

Sadar atau tidak, bahwa berbeloknya arah ”KEBANGSAAN” anak negeri ini justru secara diam-diam, sejarah bangsa ini telah dibelokkan. Kebenaran yang muncul hanya sebuah apologia ”tutup rapat belang” dan tanpa mereka sadari, anak bangsa ini tergelincir ke dalam kubangan ”petaka kebangsaan” yang bersifat mental pathologia. Reformasi pun terjerumus ke dalam kebebasan nir batas yang kemudian melahirkan persilangan-persilangan nilai normatif (tanpa merasa malu, apalagi berdosa) Nasionalisme anak bangsa negeri ini semakin bernanah. Kebersamaan lebih dimaknai sebagai ’kebersamaan kelompok”, tak lebih! Hingar sejumlah paguyuban dengan corong kebangsaan sesungguhnya tak lebih dari suatu eforia.

Saya, secara pribadi, sangat tidak setuju jika fenomena ’tenggelamnya’ nilai kebangsaan negeri ini selalu berada pada laci yang sama, yakni ”terlalu kompleks, susah dimulai dari sisi mana. Susah menemukan formulasi methodologis. Menurut saya, terminologinya adalah: dimulai dari diri sendiri. Kebangkitan kesadaran diri sendiri. Tidak bertimbang (preferensi) bobroknya pemerintahan korup negeri ini. Reformasi di segala bidang kehidupan yang berada dalam kubangan kebobrokan moral, counter culture, sebuah misal, atau huru hara krisis moral di mana pun, kebangkitannya selalu dimulai dari “Kebangkitan kesadaran diri sendiri. Tentu, sebagai pemimpin kesadaran harus diwujudkan dari atas sebagai “kerangka acu” dan bukan bersifat retorika.

16 Agustus 2006
——————–
Agustus 2009 disampaikan pada kerabat efbe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: