DETOKSINASI SOSIAL BACK TO ORGANIC


Jika munculnya jamaah keserupan diangkat sebagai sebuah fenomena – asing dan menggetarkan, kembali kita dihantar menjadi manusia yang riuh bincang agama dan ketuhanan namun pikun soal agama. Tak perlu merasa terhina atau malu jika kita harus siap menguliti diri sendiri perihal kedangkalan nalar agama yang kita geluti tiap detik selama ini. Apalagi soal jerit-jerit histeris masal model ‘demit’ masa lalu ini dimasukkan ke dalam teorema epifenomenalogi, sungguh menggelikan. Benar, soal kesurupan masal ini dalam kaitan kerentanan susunan saraf yang lelah bekerja sia-sia (baca: depresi) kemunculannya memang merupakan suatu misteri sains material serta partikel di dalam susunan saraf otak memang masuk tataran faham epifenomenalogi (untuk sekadar menghindari bahasa ‘TAKDIR’)

Toksinasi Sosial
Racun sosial telah merambah nyaris tak ada tempat sejengkal pun di bumi ini yang steril dari gugusan limbah sosial yang nyaris pula tak berujut, tak berwarna dan tak berbau.Pabrik citra tiap detik menghantar sebagian besar umat manusia bergumul di dalamnya.Kenes, solek, gemas, dan sejenisnya, gegap di seluruh dinding-dinding kehidupan. Tak ada sela atau sisa ruang yang luput dari garapan cap dagang kehidupan dengan sejumlah pernik yang ditawarkan. Manusia pengais rejeki di pembuangan sampah sosial pun menggeram di sudut gubug reot ekonomi mereka sambil berhitung soal nasib. Lengkingan tertahan lantaran gengsi mengakui kemiskinannya namun lebih pintar demo menunjukkan kebanggaan mereka sebagai kere mental, pada dataran lain memunculkan sejumlah realitas lain yang cukup mengerikan.

Tumpahan kompensasi ketidakberdayaan melahirkan berbagai bentuk perilaku menyimpang. Membakar istri dan keluarganya. Bunuh diri masal. Nyembelih cucu atau anak sendiri. Menyetubuhi darah daging sendiri. Ramai-ramai menentang institusi moral ketika melarang pelacuran. Termasuk kesurupan masal. Kondisi tersebut memang kasat. Bisa disaksikan secara empirik, namun benarkah seluruh jaringan realitas hanya berdasar dari bukti empiris? Hanya bersandar pada realitas permukaan? Pernahkah kita mampu menyaksikan secara kasat bagaimana bentuk udara? Bagaimana bentuk atom – atomnya dengan hanya melalui penginderaan telanjang? Jika jawabannya seperti orang bertanya soal warna angin, maka suatu pengambilan keputusan atas suatu kebenaran selalu akan menjadi guyonan gardu ronda, yakni warna udara yang bergerak yang disebut angin adalah merah. Masuk angin – dikerok angin keluar berwarna merah – dan hidup begitu murahnya ruah di ladang satir. Dan sejumlah kebenaran benar – benar sudah berubah jadi satir – guyonan yang dibayar sangat mahal.

Coba mengintip celah realitas soal kesurupan masal yang menghantar salah seorang kepala sekolah percaya kesurupan bermula dari menebang pohon di halaman sekolah. Animis telah menapakkan kakinya lebih kokoh dibanding keyakinan agama nomoteis. Realitas lainnya, mengapa yang disukai demit penunggu pohon hanya perempuan? Nah, apakah semua setan telah ikut-ikutan dijangkiti penyakit hypersex? Setan juga kena getah santapan kafe yang berisi kenikmatan semu termasuk mengonsum kenikmatan hormon sintetis? Setan sudah tidak hirau lagi soal laki-laki – sebab semua laki-laki sudah berujut melebihi sifat setan – maka setan sudah ringan tugas. Tinggal satu jenis manusia saja, perempuan?!

Dalam ilmu jiwa – sejumlah perilaku melenceng secara umum lebih ditentukan oleh sejumlah tingkah laku saraf. Termasuk urut-urutan kromosum di samping jenis makanan gen atau saraf. Glutamin yang dihasilkan dari sejumlah kimia hasil rekayasa genetika atau hormon sintetis – dalam batas tertentu akan menimbulkan mesin mekanik manusia menjadi acak dan semrawut. Perihal ini biasa disebut sebagai stressor. Ada stressor psychodynamic, stressor psychososial, ada schyzophrenia dan sejumlah kelainan tabiat lainnya. Tekanan yang dilahirkan oleh sejumlah kompetisi yang tak padan dengan kemampuan, obsesi strata ekonomi dan sosial, hal ini adalah penjara akhaq dan mental yang amat mengerikan. Pada tahap tertentu akan melahirkan semacam realitas teka-teki bagi orang awam.

Ambil saja sebagai contoh, bangga jadi pelacur, macho sebagai preman, terhormat sebagai gigolo, bangga punya simpanan perempuan di mana-mana, bangga punya kartu utang, merasa modis dan modern dengan umbar sebagian besar auratnya. Bisa cas-cis-cus berbahasa asing – padahal es em pe saja tak pernah nginjak halaman sekolahnya. Nyebut orang-orang yang sudah meninggal – padahal semasa hidup almarhum tak pernah bertatap muka. Mengalahkan dua sampai empat orang yang lebih berotot. Dengan dingin menggorok kedua orang tuannya atau menyetubuhi korban yang habis digorok. Kondisi kejiwaan di atas adalah salah satu bentuk ‘kesurupan ruh’ mereka sendiri yang nyasar karena benturan realitas. Disasosiatif adalah jenis kesurupan yang tega membunuh orang tua sendiri atau kerabat dekat sendiri karena bisikan-bisikan ‘mbah gendheng’ yang ngejawantah dari diri yang bersangkutan sendiri.

Ini pesan<An Nass.Soal jamaah kesurupan model ini tak mengenal siapa manusianya, apa agamanya, bertuhan atau kafir, yang jelas lebih banyak menghantam manusia-manusia di pinggir comberan ekonomi. Menggeliat manakala sarapan citra baru yang terus menghempas keterpurukan sementara berjalan di tempat dengan terengah-engah ikut berburu impian. Dari sisi ini kemudian muncul barisan panjang membeli impian di kuburan, antri jimat di kastil-kastil paranormal (maaf, baca: ‘tidak normal’). Bursa ‘obral jin’ di pabrik-pabrik mesin hasrat atau stiker citra. Lebih takjub lagi, justru sang saudagar jin ini adalah sosok-sosok bersurban yang fasih dalil-dalil Kalamullah. Ini pun sebuah mesin hasrat yang tak kalah boomnya bila dibanding dengan mesin hasrat ciptaan posmo atau intuisi yang dibangun jauh lebih bius dibanding dengan bius relitas semu, hypereality, intuisi mayawi sekalipun. Ajaib, jin harus tunduk oleh selembar stiker sablonan yang dipesan oleh sang penakluk jin. Ini moral agama dan iman model apa?

Masa remaja beberapa dekade silam, ketika lampu penerangan jalan masih sayup-sayup belum gemerlap seperti sekarang, radio masih merupakan barang mewah, belum ada teve, saya pernah bergurau asal-asalan, … suatu saat nanti bakal ada celoteh macam ini:
“ simbok kemana Man?”
“ simbok sedang seminar pakdhe”
“ Mamamu ada di rumah Sri?”
“ mama sedang ramban, memetik, kangkung bulik…”

Semula gurauan ini hanya memancing gelak tawa dan tak tersadari bahwa gurauan nakal yang tak tersadari itu justru memiliki nilai futurisma perilaku yang diciptakan oleh mesin pencitraan. Gurauan nakal model di atas masih sering berlanjut, salah satu di antara cerita satir ini:
“ … le kamu sudah ngasih hadiah apa pada ulang tahun nenekmu kemarin?”
“ … nenek aku belikan rok span dan sepatu jinjit, berhak tinggi. Kakek aku belikan halter, barbel (besi untukangkat berat).”

Saya tidak merasa sebagai keturunan pujangga Jaya Baya, tukang nujum weruh sedurunge winarah, tahu sebelum terjadi, sama sekali tidak. Namun pola pikir imaginal model demikian sering meluncur dan menyakitkan manakala apa yang awalnya lahir sebagai dialektika pergaulan tiba-tiba harus eksis sebagai realitas jungkir-balik. Kala itu memang sudah ada gejala lahirnya mesin pencitraan. Deretan rumah reot berdinding bambu – seorang anak berpakaian ala kadarnya memanggil ibunya “mama” dan “papa” atau “papi” pada ayahnya yang hanya tukang jam di pasar. Tak hina memang. Tidakkah hanya sebuah sebutan dan merdeka untuk dipergunakan siapa saja? Toh artinya juga sama. Dady, mom, mama, mami, father, papa, papi, biyung, simbok, mak, mamak,ummi, pak, rama dan sejenisnya, artinya sama : yakni bapak, ibu.

Yang jadi masalah, jika sebutan itu bukan saja bermain di ranah semantik namun lebih kepada strata sosial yang tidak pas, maka guyonan nakal tadi akan membersitkan luka mental yang tak berkesudahan dan berujung pada sakit mental sosial, stressor psychososial. Demam mengikutiperkembangan jaman malah sebenarnya memotong arus jamanitu sendiri atau mengaprahkan yang sebenarnya benar-benar tidak kaprah. Realitas kulit luar lebih merasa agung dibanding nilai esetoris yang seharusnya dilandaskan pada sikap sahaja normatif sesuai tuntunan agama, lini mana pun. Dan di atas bumi ini nyaris tak ada tempat untuk sembunyi sekadar menghindar kepulan racun sosial, toksinasi sosial beserta radio aktif perilaku yang menyesatkan pola pandang serta keyakinan seseorang. Menuntut orang lain berbuat baik namun tak hirau apa yang mereka sendiri lakukan. Pakar mengoreksi orang lain buta atas sikap diri yang lebih bersifat mengabaikan moral pribadi.

Detoksinasi Sosial – Back to Organic
Back to nature, sebuah rancang bangun perilaku sosial yang diidamkan sebagian manusia yang mulai sadar munculnya sebuah perilaku hidup yang benar-benar artifisial dan hampa makna. Memulihkan kesadaran hidup bersama secara alami, organik, non kimia sintetis, sejauh ini jika tidak salah ditafsirkan juga masih terhenti pada wacana yang kelewat retorikal. Agar tetap bugar lantas sedot lemak, diet, vegetarian dan sejenisnya – sementara bagi pengunyah non daging sekalipun tak pernah menyadari, bahwa di muka bumi ini, seluruhnya tidak ada yang steril dari racun. Mulai dari pupuk, pestisida sampai rembesan radio aktif – semua jenis tanaman tidak akan kebal dari serbuan racun. Jika vegetarian di telan dari restoran atau warung kaki lima sekalipun, jenis masakan yang dianggap aman ini pun tak bebas dari hormon sintetis, penyedap masakan.

Energi yang dibutuhkan untuk menjaga kelajuntan hidup dihasilkan dari bahan-bahan yang justru mempersingkat dan bahkan memperkosa komponen hidup itu sendiri. Paradigma sehat harus tak bisa dilepaskan oleh sejumlah supliment yang benar-benar jauh dari nilai organik. Semua sintetis dan lebih tepat disebut sebagai sampah.Jika pesan agama dijalankan seperti hukum etika berjalan di sebelah kiri – dengan tidak dipertanyakan di mana letak kebenaran hukum etika tersebut, secara sederhana saja, ‘hukum larangan atau ancaman tidak lagi diperlukan jika memang kawasan atau lingkungan hidup atau mukiman – dalam wujud apa pun – tidak membutuhkannya, jelasnya: untuk apa larangan membuang sampah sembarangan jika kawasan itu secara implisit memang mengujudkan kebersihan – maka siapa pun akan merasa enggan mengotorinya. Hanya ketidakwarasan kepribadian saja suatu keindahan harus dirusak.

Detoksinasi lingkungan seharusnya dilahirkan dari kesadaran setiap individu untuk melaksanakannya tanpa perintah selain kesadaran hukum pribadi, perintah pribadi – sebab di dunia ini sebenarnya tidak seekor manusia pun yang mau diperintah. Bahkan perintah yang menciptakan jagat ini pun dilanggar. Hampir seluruh mukiman mengeluh serbuan tikus got. Bandingkan dengan kawasan kota mandiri. Tikus sama sekali tidak diberi kesempatan hidup di kawasan tersebut dengan menjaga kebersihan lingkungan dan sekitar kawasan bebas dari remah-remah makanan. Sekitar mukiman, jarak antara jalanan dan teras cukup longgar dan rimbun pepohonan sebagai green belt, sementara mukiman keluh-kesah – nyaris tak berhalaman. Sisa ruang sedikit saja harus dibeton dimanfaatkan untuk perluasan bangunan. Tanaman dibabat habis – bila mana perlu tanpa halaman rumah dan teras pun makan bahu jalan. Got mampet yang merupakan istana paling ramah bagi populasi tikus.

Kerja bakti sudah menjadi bahasa asing dan ketinggalan jaman. Kalau toh masih sisa – itu pun yang menangani lebih banyak petugas sampah. Tak ada waktu. Selalu sibuk dan tugas membersihkan lingkungan sendiri cukup diganti sekian ribu saja untuk membayar orang lain. Kurang kerjaankah seandainya seoranng direktur sebuah perusahaan atau pejabat pemerintah di lingkungan sendiri menjumput plastik yang berserak di jalanan? Hinakah setiap saat mengeruk got di depan rumah sendiri? Tak pantaskah bahu jalan depan rumah rimbun pepohonan? Tempat parkir mobil lebih utama dibanding filter racun? Jika jawabnya ‘ya’ maka pantaslah kita sebagai makhluk manusia yang disangsikan moralnya oleh malaikat saat Allah menciptakan mesin kehidupan bagi manusia ini.

Detoksinasi akhlaq memang tak semudah diceramahkan lewat audio visual. Padahal materi organik untuk menghambat proses racun moral sejak awal – manusia telah mengenal aturan spiritual yang disertakan oleh Sang Khaliq. Setiap tahun pun dari sebelas bulan manusia merusak komponen mesin kehidupan, Allah memberikan garansi perbaikan selama satu bulan penuh terhadap apa yang dirusak. Puasa merupakan ruang dimana manusia diharapkan menghindari sejumlah racun kehidupan, takabur, munafik, syirik, musyrik, dzalim, kufur di segala bidang – namun realitasnya meja makan berubah jadi foodcourt – lengkap dengan berbagai menu siap saji dan wah. Penghormatan puasa malah teramat suprafisial, pendangkalan makna substansinya.

Tersadari atau tidak, pesan tersembunyi dari puasa adalah penetral sejumnlah racun perilaku. Menghantar manusia menghargai ketenangan, keteduhan, kedamaian, kemulian dan menghindari kehinaan, baik hina sosial sampai hina perilaku. Puasa merupakan anestesia bagi sejumlah penyakit moral dan mental kronik dan segera memuntahkan racun-racun tersebut dengan mengambil sikap perenungan hidup secara totalitas. Hening perut – hening hasrat – hening otak – hening keberadaan dan keseadaan, teorema sederhana tersebut merupakan chemoteraphy dari sejumlah kanker sikap hidup, kepribadian dan perilaku. Tidak busung dada sebagai sosok atau kelompok paling dekat dengan Tuhan. Tidak haus hormat dan merasa paling benar sebagai komunitas hidup yang ekseklusif. Ulama, Kyai, ustad serta sosok – sosok di entitas sakral tidak sibuk ngurusi jin tapi mempersiapkan para santri siap menembus ruang dan waktu serta melesat di orbit futurisma. Memperkecil porsi ‘pandai menuding dan tak laik bertanding.

Mengembalikan gengsi pendidikan peradaban spiritual memang tak semudah idea yang dituang di lembar makalah seminar. Sering seseorang terjebak kedalam sikap romantis manakala derap langkah kekinian coba dibandingkan ke masa lampau. Tidakkah setiap perubahan selalu akan memunculkan suatu risiko tandingan – dan jika risiko yang muncul tak sepadan dengan kesiapan menghadapinya – yang muncul akan selalu bersifat ‘kekecewaan’, getir dan merasa dimarjinalkan. Selalu menyalahkan isi fisik dari suatu perubahan. Siapa pun yang berada di luar perubahan, menafikan perubahan, mereka akan dilindas oleh perubahan itu sendiri. Kecerdasan untuk membangun beteng sakti dari sejumlah perubahan, perubahan sosial di dalam masyarakat, perubahan – perubahan norma masyarakat, di dalamnya syarat pesan kepekaan menangkap realisma baru yang hadir dan sering melahirkan kegamangan bagi mereka yang tidak siap ikut berubah.

Nilai establishment yang mengakar dan disakralkan (baca: menjadi profran membongkar suatu nilai kaidah normatif yang diseretnya sejak berabad) – maka realisma baru yang menggelinding di tengah-tengah masyarakat sulit diterka arahnya. Mesin perubahan dengan produk-produk perilaku ‘pamer’ dan kompetitif, terpenggalnya sebuah tatanan kebersamaan termasuk kepedulian lingkungan pun menjadi sebuah mesin baru di lahan bisnis. Dan, manusia mulai benar – benar menyadari secara malu – malu, mereka merasa dan sadar adanya ‘ruang yang hilang’. Bukan saja dialektika gardu ronda atau basa-basi etika di kesilaman – namun bangga sebagai sosok beragama pun mulai tanggal. Bahasa dosa tak jauh beda seperti tumpukan sampah – dan tugas pemulunglah yang ngurus soal dosa. Pemikir agama mulai nampak seperti pemulung yang memungut barang buangan. Dosa-dosa yang dibuang sembarangan di sembarang tempat – yang berujung pada radiasi toksin sianida normatif – dan menggasak seluruh wilayah kehidupan – para petugas kebersihan dosa pun ternyata juga tak steril radiasi dosa yang seharusnya dinetralisir.

Hilangnya Norma Santun
Pra edukasi masa lampau memang bukan saja sangat sederhana bahkan untuk matra psikologi perilaku dengan sejumlah teoremanya dianggap sangat naif. Yang menjadi sebuah pertanyaan besar, mengapa perangkat lunak pendidikan moral dan etika bagi anak-anak justru tidak melahirkan nilai yang padan dengan komonen pendidikan yang dianggap jauh lebih maju tersebut? Sangat tidak adil jika nilai pembanding yang berbau romantis masa lampu dipergunakan sebagai matra nilai. Ambil saja norma santun sekian dekade silam, seseorang yang berjalan di depan orang tua atau sebaya yang sedang duduk di teras atau halaman rumah, meski jarak pejalan kaki dengan orang tersebut agak jauh – apa yang ia ucapkan? “….nyuwun sewu mas, ndherek langkung,” permisi mas numpang lewat. Atau ketika seseorang menanyakan sesuatu kepada orang yang tidak dikenal dan penanya saat itu sedang berada di atas sepeda, orang tersebut pasti akan turun dari kendaraannya dan baru bertanya.

Kini, apa yang kita saksikan dari kondisi yang sama? Jika agama benar-benar menerapkan ajaran berbuat baik, amal saleh, lantas metodologi apa yang dipergunakan para penyampai kebenaran tata nilai tersebut sehingga pesan mulia norma agama ini tak mempan menahan laju kebebasan bersikap di atas nilai agung yang bernama prifasi (baca: hak azasi manusia dengan memberlakukan bebas nilai, bebas berkreasi, bebas menentukan sikap dan tidak munafik). Kata terakhir ini pula yang dipergunakan sebagai paradigma pemangkas berbagai matra nilai kehidupan. Telanjang dilarang berujung ‘munafik’. Dalilnya, yang melarang toh suka perempuan telanjang. Menentang porno aksi, pelarang pun diam-diam mengintip perempuan berpakaian minim. Sifat fitrah yang harus tunduk oleh sejumlah aturan dan keimanan inilah yang dipakai sebagai terminologi nilai kemunafikan.

Ah, tiba-tiba dan diam-diam terasa lebih damai menyaksikan anak-anak pulang ngaji – berjalan di atas pematang tanpa obor dan hanya diterangi kerlip bintang. Diam-diam merasa damai manakala malam berhiaskan kidung sinom parijatha atau maca pat atau langgar samping rumah menumpahkan ayat-ayat suci Al Qur’an – atau santri-santri kecil pulang ngaji dengan obor mereka beramai-ramai nginjen, mencari sambil mengendap-endap, jengkerik di sawah. Saat itu mereka belum kehilangan daerah bermain. Komunitas mereka sepi kata-kata umpat, bego, dongok, sialan dan sejenisnya.

Jika saja saya percaya rumus nyleneh yang sedang pikuk dibincang saat ini, return point, titik balik peradaban, jujur tanpa pesawat ulang-alik atau sejumlah perabotan modern, ternyata hidup tidak terkurangi makna hidup itu sendiri. Benar, kadang pada titik pandang tertentu manusia akan kembali menjadi kenak-kanakan. Terasa tak ada yang dilebihkan atau terkurangkan ketika seseorang harus menempuh jarak berkilo meter hanya dengan jalan kaki, naik gerobak sapi, naik kuda atau dengan pesawat super jet – yang tersisa adalah percepatan pemenuhan hasrat – hanya itu – – dan keduanya punya dinamika dan risiko yang tak jauh beda dari keduanya. Saya tidak ingin menekuk waktu, masuk ke dalam lorong waktu, time tunnel, agar terbebas dari masa kekinian dan bermesra dengan keluh masa lalu.

Jika ditarik ulur tapak-tapak kehidupan kini dan kemarin ada substansi dan dimensi gerak kehidupan yang sama sekali linier. Yang beda hanya bentuk tampilan materi yang membuahkan risiko. Tak lebih dari itu. Maka laci jawab dalam menghadapi bergesernya bentuk tampilan wujud risiko adalah penyetaraan kesadaran menangkap nilai risiko dan dampak risiko itu sendiri. Jika laju kencang perubahan tak sebanding dengan langkah yang diiukurkan dalam laju perubahan tersebut – penyakit gamang berbalut keluh dan kerisauan akan segera menampilkan jenis penyakit yang jauh diluar nalar manusia secara umum. Stressor psychososial, psycho dynamic, bagai barisan panjang yang siap melahap siapa saja, khususnya bagi mereka yang rajin mengucapkan kata ikhlas, kata taqwa, kata beriman, kata bertuhan hanya setara hembusan nafas di hidung sampil geram menyaksikan pasar malam sosial di sekitarnya. Hantu kehidupan, hantu ekonomi dan ketergantungan, dari sisi ini pula jurang kekufuran, jurang kesyirikan, jurang kemunafikan, jurang kemusyrikan siap menelan siapa pun. Tak perduli mereka berada di entitas sakral sekali pun.

Social paranoida pun ruah di mana-mana. Pelacuran, perjudian, kriminalitas, pendangkalan nilai, pembodohan dan seterusnya, perilaku kehidupan ini pantas disebut sebagai social paranoid. Termasuk menghalalkan segala cara. Termasuk membuat undang-undang untuk menjerat oranng lain dan menyelamatkan dosa sendiri. Termasuk riuh menyalahkan nasib dibanding besaran usaha yang dilakukan. Termasuk produsen fitnah untuk mengangkat derajat lewat cap dagang. Termasuk para pendidik sibuk perut pendidik, sibuk keluh sarana pendidikan tanpa sibuk ngurus metodologi pendidikan, konsep pendidikan, disiplin pendidikan, militansi pendidikan dan hasilnya jelas, ilmu hafalan, sensory memory. Soal sarana pendidikan, bagaimana dengan dekade 50-an? Itu kalau boleh berbanding terbalik. Benar, pada masa itu para pendidik adalah Umar Bakri dalam arti yang sebenarnya. Benar juga – ibadah tidak layak mendzalimi diri sendiri.

Poissoning causal peradaban telah lengkap menggenangi lahan kehidupan umat manusia. Rembesan radio aktif pelaku kehidupan sudah menjadi sebuah citra megah. Mampukah peran agama melerai pertikaian adab macam ini? Jika jawabannya tak mampu, sebaiknya tinggalkan saja keyakinan agama apa pun. Jika demikian, Ebiet Ge Ade benar, Tuhan telah bosan melihat tingkah kita, Tuhan telah menjauh karena kita jauh kata Bimbo, padahal mutiara kidung bisnis tadi jika dihunjam ke dalam nilai Aqidah, sungguh dangkal dan musyrik!

Jika agama disekulerkan – sesekuler-sekulernya – dan kehilangan ruh kedibyaan spiritualitasnya, maka ajaran agama sama sampahnya dengan virtual yang dijajakan di play stations. Jika agama hanya mahir membuat larangan dan ancaman dan bukan keteladanan, maka agama bagai dongeng seribu satu malam yang sangat memprihatinkan. Jika agama hanya sibuk ngusir jin, menjual jin dan menjual amalan – maka agama akan menjadi sampah peradaban itu sendiri.

Agama diturunkan untuk menjelajah ruang dan waktu, menjelajah dimensi dan kondisi di mana hidup itu diperuntukkan bagi makhluk yang bernama manusia. Agama bukan sekadar mengatur tapi juga menciptakan. Menciptakan apa saja, termasuk menciptakan peradaban, menciptakan tata nilai. Yang nyata saat ini justru sebaliknya, agama membeli nilai yang benar-benar bukan produksi dari ajaran mulia agama itu sendiri. Ilmu yang dimiliki – yang dianggap bermuara pada sumber agama – nyatanya malah membantai nilai agama itu sendiri. Benar, kita sudah benar-benar berwajah global, termasuk wajah keyakinan – sehingga nilai agama yang tersisa adalah kegeraman sambil menciptakan dendam dan kebencian. Ini pun racun agama, racun sosial termasuk racun kejiwaan.

Metodologi mengajak, meneladani, sentuhan kejiwaan dalam dunia pendidikan, hanya ini bentuk detoksinasi moral sosial dan moral agama yang harus segera diterapkan dengan tanpa berhitung berapa lama jenjang yang dibutuhkan untuk memulai? Berapa dana yang dibutuhkan bangunan model ini? Pertanyaan besarnya hanya : siapkah kita memulainya. Hanya itu. Hilangkan fenomen klasik ‘pengurbanan’. Dalam soal satu ini tidak ada yang dikurbankan. Allah diingkari oleh yang diciptakan bukan sebuah pengurbanan ciptaan.

(dari: Pengantar Pengajian RIC 2005)
erry amanda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: