DUA MENATAP LANGIT JIWA


DUA MENATAP LANGIT JIWA

Fathony Tonybudisantoso

Duka ini untuk negeri
Karena embun pagi masihlah membasuh
wajahku berulang kali
Temaram yang ini makin menyedihkanku
Mengiris luka demi luka,mengiris duka demi duka
Di hari ini sepenuh cintaku tak cukup berarti
membasuh syahwatmu, memuja mahkota
memuja huru hara dan mala petaka
Tenanglah dik…
kukecup keningmu
sebelum mati sia-sia

erry amanda

bait bait bertimbang rasa
penuh gamang
menatap langit
kehidupan kebersamaan
penuh tatanan
mengambang di atas gelombang
ketidakpastian
do’a do’a senantiasa mengebur langit
tangan tangan menengadah
jari jari menyimpan milyaran trilyunan dzikir
jiwa jiwa yang tunduk

oh…
adakah sesal masih punya arti
adakah gelombang airmata mampu mewakili duka
adakah jerit tak cukup membangkitkan kesadaran
adakah jubah kebesaran kian megah
meluluh-lantakkan tanah pijak, agung peradaban
adakah kidung pangarih
adalah hiasan malam lirih bagi bocah bocah kedinginan
seluruh popok kemuliaan tertelanjangi

oh…
jiwa jiwa yang patah
deru derap langkah tergesa
tataplah wajah manusiawi yang garang bertaring
telah tergali pusar badai dan lingkaran api
haruskah kami ikut menari
sambil bangga membakar negeri sendiri.

Surabaya, Tangerang
8 desember 2009

2 Komentar

  1. simondrug said,

    20 Juni 2010 pada 20:43

    oh,,,,,,,,,,imajinasi yang menembus cakrawala langit
    dengan tengadah tangan tak kenal lelah
    berdzikir hati tak henti henti
    untuk negeri ini
    yang morat marit
    oleh para petinggi

    salam……..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: