MANUSIA PERTAMA TAK PERNAH ADA? SEBUHAH PERTANYAAN KHUSUS BAGI MUSLIM YG MENGIMANI TEORI EVOLUSI


Gaung MANUSIA KETURUNAN KERA masih hiruk, bukan saja di ranah kelompok indeterminis namun juga melabrak di dunia religiusitas, bahkan ummat Islam yang masih meyakini adanya makhluk spesis manusia pertama bernama ADAM. Sementara teori yang dicanangkan oleh Darwin sama sekali tak mengenal bahkan menafikan adanya manusia pertama (langsung berwujud manusia). Manusia pertama menurut teori evolusi adalah hasil dari mutasi gen primata bernama ‘kera’.

TAK PERLU FERIFIKASI

Benar, di ranah keyakinan (kebenaran metakosmis/agama) tak bisa dibuktikan secara empiris atau pembuktian secara ilmiah, juga tak bisa diferifikasi kemudian dipublisir/produksi seperti laiknya di dunia sains. Benar juga apa yg dikatakan oleh Albert Einstein, bahwa jika seseorang menyebut penemu teori relativitas sebagai sosok selain sebagai saintis juga mencerminkan seorang yang beragama: “… jika saya nampak seperti orang yang beragama, jika pun demikian, saya tak bisa menjelaskannya seperti saya menjelaskan teori fisika atau materi2 ilmiah…”.

Pengakuan di atas sudah bisa ditarik simpul, bahwa kebenaran kelangitan (iman) sama sekali tidak membutuhkan logika ilmiah, kecuali yakin, dan kedudukan keyakinan sama rumitnya dengan menerima kebenaran ‘ontologi’ di dunia sains.

Dalam tulisan alit ini saya tidak mencoba bagaiman proses keyakinan menjadi sebuah ‘kebenaran mutlak’ dan tidak membutuhkan hipotesa atau referensi kepustakaan, kecuali kitab yg diyakini, tulisan ini hanya sekadar mempertanyakan (khususnya kaum muslim yang meyakini kebenaran teori evolusi. Rekaman di al Qur’an sesungguhnya masalah penciptaan sudah purna (finish) tak perlu direntang canang sebagai pembuktian kebenaran firman. Isyarat ‘sempurna dibanding makhluk selain manusia sudah cukup dipakai sebagai dalil aksiomatis/mutlak (bukan berproses dari sederhana, hina, tak memiliki peradaban, tak berbudaya, tak berperasa, emosi linier yang sangat sempit. Kata sempurna selalu tidak memiliki banding sempurna yang lain, kecuali di bawah sempurna.

Berangkat dari logika sederhana tersebut, jelas penerimaan kata sempurna sama sekali tidak membutuhkan verifikasi. Sementara teori evolusi masih sangat membutuhkan dalil2 pendukung, termasuk hipotesa serta premis yg tak pernah usai. Sejumlah falsifikasi dan a preori masih terus mengambang di permukaan dalil mati teori tersebut dan yg harus diterima mutlak. Salah satu pembuktian paling akhir adalah upaya melatih kera untuk berperilaku seperti manusia. Pertanyaannya: “APAKAH SAAT KERA MELAKUKAN MUTASI JUGA PERLU PELATIHAN?” Pertanyaan ke dua, mengapa proses mutasi bersifat acak dan parsial tidak menyeluruh? Mengapa masih tersisa spesis yang tidak ikut melakukan mutasi gen. engan bahasa lain yanga naif :’apa kelompok sisa tersebut sedang tidur atau sedang tidak mood?’

JIka penelitian hanya terhenti pada sistem reproduksi, atau perilaku biologi molekuler (pada masa itu) mengapa proses mutasi terhenti dan tak berkelanjutan? Anggap saja teori evolusi itu benar dan berhenti durasi dan life time-nya, pertanyaannya, siapa gerang yg menghentikannya? Termasuk siapa yg berkehendak terjadinya mutasi tersebut. Jawabnya adalah ‘alam’ atau karya dan kemauan yangb bersifat universal? Universal yang mana? Bagian jagad raya yang mana? Sudah ditemukan atau belum pabrik pengolah kehendak tersebut? Tiba2, acak, buta, keserbaan, terjadi begitu saja, jawaban kelompok pendukung di ranah kwantum, sadar atau tidak sadar, apa pun bentuk jawaban itu – sesungguhnya membutuhkan dorongan niat (kehendak): NIAT TIBA2, NIAT ACAK, KESERBAAN, BUTA dan seterusnya. Jawabnya selalu: “ITU ADALAH SIFAT (PROPERTI) ALAM ITU SENDIRI” atau untuk lebih melegakan disebut sebagai kerangka dasar yang substansial.

MENGAPA HARUS KERA
Tidakkah spesis tikus termasuk kelinci memiliki kesetraan nilai darah dengan manusia? Boleh jadi ini dikatagorikan pertanyaan “ngawur” tak ilmiah. Pertanyaan berikutnya, siapa yang menetapkan klasifikasi bentuk serta tatanan biologi pada biota? Termasuk juga teori bigbang yng berasal dari satu titik kecil (teori kabut). Titik Kecil tersebut dari mana? Apakah munculnya titik kecil tersebut serta merta, begitu saja ada tanpa penggerak awal dari suatu keinginan? Jawabnya pun jelas: “Anda mengidentifikasi sifat2 bentukan dari kesadaran dari proses akhir suatu jalur produksi. Menstarakan sifat yg telah terbentuk dengan proses awal sebelum terbentuk adalah sangat naif dan tak adil. Jelasnya, perasaan dan logika yang Anda sadari anda masukkan ke dalam logika proses, hal ini adalah kebodohan”. Jawaban model ini juga sama rumitnya untuk menerima ‘KEBENARAN PROSES’ untuk dinalar.

Satu hal yg tak kalah membingungkan, dijagad ini dikenal adanya teori ‘KEKEKALAN MATERI’. Pertnyaannya: “emosi apa yg mendorong alam tersebut melahirkan dalil kekekalan dan untuk apa? Sungguh luar biasa jagad raya yang kita lihat ini bermula tanpa emosi awal, tanpa rancang bangun, tanpa persiapan, tanpa teori awal – muncuul begitu saja dan serentak membuat aturan2 yang massive dan aksiomatis (padahal semua dilahirkan secara acak dan tiba2.

Tulisan ini bukan berpretensi menghujat dunia sains, semua pertanyaan dan pernyataan ini semata hanya untuk mengingatkan saudara-saudara kami yang seranah, se”IMAN”, setidaknya memiliki keyakinan adanya tuhan, gnostik sekalipun agar tidak terpeleset manakala mempejajari filsafat dan sains. Ilmu pengetahuan sangat penting, agama juga sangat penting, namun keduanya harus mampu memunculkan kebenaran yg tidak saling berpotongan tegak lurus atau yang bersifat diametral, meski kawasan yg dikerjakan berbeda bentuk. Beranah beda, namun sesungguhnya memiliki jalur yang sama sama linier (searah) pada rel yang beda.

Tangerang 29 Nov 2009.
erry amanda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: