MEMBACA TANDA TANDA DI LANGIT


Di luar penginderaan optic ruang angkasa, suku Astec (Maya) – Indian, ribuan tahun silam selalu berusaha membaca tanda-tanda alam termasuk tanda-tanda di langit, termasuk meteor. Suku Indian tidak ribut muasal jatuhnya meteor yang menurut penelitian ‘ahli benda langit’, bahwa jutaan meteor yg berulang antara 74 – 75 tahun sekali diakibatkan oleh ulah matahari (teori kabut) — meski mereka (suku Maya) hanya bersandar pada teori yg bersifa anomali (yang sering diasumsikan sebagai mitis), namun peradaban kuno itu telah memberikan logika sirit yang sangat luar biasa.

Benarkah setiap kejadian hanya bersifat “kebetulan?” Daun luruh ke bumi, sebuah misal yang sangat naif, juga kebetulan? Hanya karena angin atau kering kemudian jatuh? Jawaban ilmiah dan anomali adalah “TIDAK?”, kecuali mereka yang menafikan “MUASAL RANCANG BANGUN” (indeterminis). Daun jatuh karena terjadi penguapan yang terlalu tinggi sementara sistem koloigatifnya sangat rendah (penuaan) sehingga selulosa termasuk sell2 pada batang daun tdk melakukan mitosa, untuk mengurangi penguapan maka lepaslah tangkai daun.

Adakah peritiwa seferhana tsb hanyalah peristiwa sederhana (tanpa ada perencana tentang teori tersebut?.Tidakkah Allah subhanahu wa ta’ala kerap menegur: “jangan menyepelekan hal-hal kecil”. Jelas, suluruh daratan kehidupan ini punya ‘guru besar’ yg terhampar di mana2, termasuk reaksi2 alam yg tak terhitumh jumlahnya. Juga reaksi atau tanda-tanda di langit, tanda-tanda siang dan malam, alam mimpi dan seterusnya.

Keindahan pagi dengan luncuran cahaya seperti kembang api dari meteor, boleh jadi hanya semacam hiasan langit yang dicerna hanya di ruang pandang mata. Jika pun demikian, itu pun sudah dicukupkan bagi mereka yang “tidak mengetahui” atau bagi mereka yang tidak menggunakan “akal dan pikiran” seprti yang sering diperingatkan oleh Allah swt. Namun, bagi mereka yang selain melihat segala kebesaran dengan mata hati (iman) juga menggunakan ruang berpikirnya, mereka kan selalu bertanya: “pesan apa yang disampaikan oleh Sang Khaliq atas tanda-tanda tersebut?

Kejadian yang memiliki interval antara 74 atau 75 tahun tersebut jelas bukan kejadian serta – merta tanpa direncanakan dengan teori yang sangat rumit, bahkan dalam dunia sains masih berada pada kubangan nilai ‘ontologi’ atau ‘epifenomenalogi’ (meski secara teori bisa dijelaskan oleh reaksi universal tersebut), namun tidak pernah mendapat jawaban, mengapa kejadian itu harus terjadi? Dengan kata lain, “siapakah yang mampu membaca pikiran tuhan = Theory for everything?”.

Terlepas dari sejumlah spekulasi sains, jumlah jutaan pijar materi ruang angkasa, dalam satu sisi memiliki nilai penting terhadap seluruh biota di bumi ini termasuk (biosfer dan ekosfer). Reaksi yang dibawa oleh pijar materi tersebut adalah ion negative yang sangat berfungsi untuk mengurai sejumlah racun (toxic) yang berbahaya bagi kehidupan biota di bumi ini. Racun yang telah mampu membobol lapisan ozon serta genangan racun di permukaan stratosfer dan lintasan racun selluler di ionosfer. Subhanallah… Ini bukti, bahwa sebelum hari yang ditetapkan, Allah yang Maha Mengampuni dan Maha Melindungi, Maka Pengasih lagi Maha Penyayang, hanya Dia lah yang mampu memperbaiki kerusakan ciptaannya (yang kita hancurkan tanpa kita perduli untuk menjaganya).

semoga tulisan alit ini menjadi salah satu teguran untuk kesadaran kita menjunjung tinggi moral sosial dan spiritual kita – yang senantiasa “SADAR & PEDULI” pada peradaban lingkungan. Semoga.
Amiin

Tangerang 24102009
erry amanda
salam..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: