MENAMPAR ANGIN DI JENDELA TAK TEMBUS PANDANG


Tak terhitung berapa waktu yang menyelinap di balik jendela rumah sunyi tak berpenghuni ini
selain sunyi kediaman yang baka bolak-balik aku ajak bicara
di dalam rumah tanpa tiang menggantung di antara lembah dan gunung
tempat di mana angin bersarang, berpusar membuat guncangan-guncangan
menggedor-gedor jendala tak tembus pandang

angin dan gludug* tanpa musim selalu aku penjarakan di rumah tak berpenghuni ini
berteriak-teriak manakala aku tampar berulang
sahabat yang tidak meminta apa-apa selain sebentar singgah
meninggalkan cerita tentang peristiwa asing di luar sana
tentang binatang-binatang yang main sandiwara di katil-katil para pemilik kebun binatang
tentang semedi gedung-gedung berlapis emas atau kuburan-kuburan yang dijaga hulu balang
dan aku hanya diam dan setia mendengarkan
karena aku tak pernah tahu bentuk cerita itu

malam telah berada pada kediamannya sendiri tanpa niat bertabiat gelap
angin menyerbu menampar-tampar jendela tak tembus pandang
kemudian menggelepar di dinding – dinding membuat warna-warna asing yang memilukan

“kamu tak suka aku penuhi dinding ini dengan cerita banyak warna
sementara sebagai penghuni kau tak pernah perduli untuk mewarnai dinding rumah ini?”

untuk apa, jawabku sambil menampar mulurt racun angin
aku tak perlu meninggalkan jejak warna, dan aku juga tak pernah mengerti warna
setahuku semua hanya lazuardi langit memantul di laut dalam cermin pantul tak beda
atau hijau rimbun belantara, warna-warna tanah
untuk apa warna warna itu di bawa lagi di rumah ini?

gelegar halilintar memancarkan silau cahaya
kembali sunyi suara raksasa itu menyimpan dirinya di lembah-lembah
dingin air tumpah dari langit memberi kehangatan tanah-tanah yang memujanya
sungai-sungai yang mengangkut banyak peristiwa bersuka cita
sendau gurau di antar ikan ikan menunggu waktu di penggorengan

kembali angin berpusar pada berita-berita yang membosankan
sebuilah belati beracun aku hunus untuk menghentikan perilakunya
“jangan! kamu masih membutuhkan aku. Lihat! Jendelamu tak tembus pandang
dari mana kamu ketahui pergantian musim dan peradabannya tanpa aku?
tidakkah berjuta-juta wilayah tempat berteduh aku yang membawamu
tidakkah isyarat kesunyian yang aku suling di bentangan lembah
di mana kamu mulai mengenali dirimu sebagai bocah kecil
dan sampai sekarangkamu masih tetap bocah
bersahabat dengan dirimu sendiri
dirimu sendiri

* gludug = petir

Mohon maaf, agar tulisan sederhana ini tak terperangkap hanya sebagai PERMAINAN KATA:
di bawah ini sedikit ulasan sebagai kerangka acu.
Pernahkah kita sadar, bahwa sesunggunya kita telah memenjarakan diri kita di rumah asing dalam diri, di balik penjara penglihatan samar, di balik jendela tak tembus pandang?

Pernahkah kita sadari, kita berada di rumah (bathin) tak bertiang, bergantung di antara sarang angin yang sengaja kita buat dan kita keluhkan, kita hujat, padahal semua lahir dari kesadaran nafsi yang menggelora?

Pernahkah kita sadari rumah (bathin) kita miskin warna. Dinding2 jiwa kita kumuh oleh hasrat yang melebihi gelegar guntur?… Read More

Pernahkah kita mampu melawan arus kisah yang bukan kisah kita sendiri namun mulut kita lebih fasih menceritakan kisah yang bukan kisah (keyakinan, aqidah, tradisi, moral dsb) milik kita sendiri?

Pernahkah kita sadar jika setiap saat kita menjaring angin “petaka” kemudian menyalahkan tangan2 lain, padahal sesungguhnya kita sendiri yang menciptakannya?

Pernahkah kita arif melihat kesalahan orang lain agar kita lebih tahu kebenaran kita sendiri?

Sadarilah sahabatku : JENDELA TAK TEMBUS PANDANG, ITU diri kita sendiri, musuh kita paling besar dan paling berat untuk ditaklukan, bahkan untuk sedikit saja berteman dengan diri kita sendiri juga sangat rumit, apa lagi saat diri kita harus jadi musuh paling besar.
Tak mudah memahami tulisan itu, tulisan diri kita.

Semoga tulisan alit di atas merupakan kesadaran normatif, siapa sih sesungguhnya kita, selain sosok yang dipenjarakan di dalam rumah tanpa tiang.

(penjelasan komentar u/: Prof. Dahnir Dahlan, Ustadz (Dosen) Noer Komari, Mawan).

salam
erry amanda
Tangerang, 19 oktober 2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: