SEKSONOMI SILUMAN POSTMORALITAS


Makalah pengantar pengajian RIC
oleh: Prof. DR. E. Hayatullah al Rasyid
(Erry Amanda)
…… lahirkanlah anak-anakmu lebih baik darimu.
dan warisan terbaik bagimu adalah anak yang saleh.
…..

Langkah tegap hyper hedonia bagai barisan buldoser dan siap melindas siapa pun mereka yang tak ikut dalam barisan tersebut. Dari bangunan menara langit hingga lorong-lorong becek dan kumuh – terdengar para jamaah mendendangkan mars postsexsambil menghafal syair-syair antinorma. Di tlatah wirid pun mulai menggeliat menggali nilai-nilai baru yang coba diusung untuk bertanding di jalur licin ‘moncer’, kondang, kajen, terhormat dan berduit dan nilai wirid dalam koridor jemaah sedu sedan serta dongeng wali ngajar kungfu pun (senitron) kian rancak mendulang suprafisial, hampa dan pendangkalan makna.

Rekayasa hormonal telah mampu mengangkat derajat sosok-sosok yang nyaris sulit dibedakan satu dengan yang lainnya. Wajah jawa, sumatera, wong gunung atau wong kutha, cina, bule, aceh, negro seluruhnya luruh ke dalam nilai similar. Dari mulai sedot lemak, body language, suntik – operasi silikon, susuk konvensional teknologi dukun hingga susuk berteknologi tinggi, dan gairah pun mencuat – tak perduli simbok bakul gaplek atau para selebriti majelis taklim, semua ngecat rambut. Pasalnya, ngecat rambut kan sunah rasul.

Di balik kecenderungan yang lebih pantas disebut sebagai maniak ini adalah gambaran nyata dari sebuah benteng moral yang dibangun tak seimbang antara realitas dan tuntunan yang lebih mengarah menakut-nakuti dan ancaman.

Pilar sodom dan gumorah megah di bangun di hampir seluruh sudut-sudut bumi paling terisolir sekali pun. Tak pantas memang menyebut apa yang sedang terjadi di negeri solek ini sebagai counter culture model AS pada pasca perbudakan negro perkebunan dekade 60-an ketika itu. Inferior moralitas ini lebih ditandai oleh sejumlah ketidak-berdayaan melawan hegemoni negara adi kuasa yang secara matang negara mana pun harus jadi pusat pembuangan sampah, sampah apa pun, sampah politik, sampah kepentingan, sampah kekuasaan, sampah industri, sampah komersial, sampah peradaban dan deretan sampah lainnya, termasuk sampah norma dan ilmu pengetahuan hafalan.

Soal strata pendidikan, Barat dengan mudah membaiat negeri sampah menduduki strata atas angin dengan sertifikat bikinan percetakan kaki lima dan dengan biaya murah sekian ratus juta bahkan puluhan juta saja bisa memperpendek jenjang pendidikan, 5 – 8 tahun, cukup hanya sekejap mata saja. Toh ilmu tak penting yang penting strata fungsional birokrasi, itu pun bukan buat negera di mana sertifikat itu diterbitkan. Bahasa ‘borok’nya, “…ngapain susah-susah bikin pabrik, biar gue saja yang bikin, loe tinggal pakai, negara loe kan kaya raya… “ lantas tidurlah raksasa kecerdasan anugerah Allah bagi bangsa yang merasa lebih bertuhan dibanding pemilik sains dicap kafir tersebut – dan konyolnya dengan diam-diam bangsa beragama tadi dilahap hyperrealitas yang menggerus norma agung mereka tanpa tersadari. Timur dibiarkan oleh Barat untuk sibuk ngurusi tuhan, tuyul, mitis, perdukunan dan semua turunannya dan bergulat jungkir – balik, ribut soal tuhan yang beraroma klenik.

Dengan wacana dan mesin canggih untuk mendangkalkan makna berketuhanan pun diciptakan dengan amat lembut. Mesin pencitraan, mesin hasrat, desiring machine, yang kemudian melahirkan semacam jemaah utopia. Mimpi kesetaraan hidup, kesetaraan hasrat, derajat dan kenikmatannya tidak lagi harus melalui strata sosial. Kuli bangunan atau pengais rejeki kaki lima pun berhak menikmati ‘paha kafe’ meski kafe remang-remang sudut jalanan atau bahkan sepanjang rel kereta api.

Kebebasan membuat aturan sendiri (baca: orphan) memang tidak serta-merta lahir dari sebuah evoria kebebasan belenggu monolitiknya Suharto, namun lebih ditandai ‘ketakberdayaan melawan arus’ ditambah kelompok panutan justru membuat negara-negara kecil, mafioso-mafioso jalanan dalam upaya membangun nuansa wibawa sambil mengais dana potensial jalanan. A giant behind preman, the god’s father behind selangkangan kian jadi lahan subur tanpa pupuk apa pun selain ‘menciptakan keterpurukan ekonomi,’ sambil ngethoprak giat bela rakyat dan kelewat tidak lucu.

Lantas lahirlah industri-industri pantat dan yang harus diselamatkan untuk mencitrakan negeri ini telah muncul sebagai negeri adi daya dalam soal lendir. Lendir di negeri ini tak lebih dari harga kacang rebus. Virginitas hanya seharga pulsa seluler. Ini mode, ini seni, ini kebebasan berkreasi, porn virtual adalah kebebasan pers, maka Undang – Undang Pornografi hanya sebuah energi mubazir dan bahkan membelenggu kebebasan perempuan (maaf, baca: kebebasan melacur).

Sungguh naif dan sebuah locus classicus, (laci jawab klise), bagi kelompok yang mengatasnamakan hak azasi manusia, meski terma ini lebih pantas disebut sebagai mamal right, hak azasi hewan. Sosok yang merasa amat teistis murni pun lantang membela, ‘agama tak seenak jidat menggerayangi soal seni’. Wajar saja statement bengal ini lantang diteriakkan.

Tidakkah ia (pembela maksiat) lahir dari sosok apologia religi, merasa moderat dan mampu menjembatani sejumlah ranah dengan merdeka dan harus menyempitkan kemurnian ajaran. Pluralitas yang diadopsi oleh kepentingan postmo dalam upaya membangun keseragaman nilai dan bahkan membebaskan nilai. Umumnya sang founder pada kelompok ini sama sekali miskin methodologi. Dan ini adalah maling di rumah sendiri. Pezinah bagi keturunan sendiri. Starting point mereka lebih pada bagaimana mereka berani tampil beda.

Syar’i bukan sebuah institusi sorga – neraka, juga bukan harga mati. Ia adalah kondisional. Masa rasul harus dibedakan dengan masa neo seluler. Itu dukungan mereka terhadap munculnya wabah borok moral di seluruh bumi ini.

Amatlah wajar sebuah kecemasan dan ketidakrelaan industri pantat harus digulung – jika produk yang ditawarkan adalah merupakan salah satu aset pendukung laju – kembangnya sistem perekonomian. Seksonomi bukan saja menjadi semacam front office namun lebih mencitrakan multi national corporation yang menjadi babon GNP (gross national product) atau GDP ( gross dosmetic produk). Tentu soal pajak harus dibedakan dengan industri lain yang tak sejenis. Namun texolidinya justru tak perlu dipertandingkan.

Jabaran sederhana, industri pariwisata, ratio sekian persen isi fisiknya suatu hotel adalah pantat. Itu pula yang diributkansalah seorabg tokoh soal UU Pornografi. Jika UU tersebut diberlakukan, masih menurut tokoh tsb, akan terjadi pengungkungan bagi masyarakat Bali. Ironisnya ini menjadi tajam manakala menyoal porno mengapa bukan suku Dani yang 90% bugil baik laki-laki maupun perempuannya? Jawabnya jelas, suku terasing Papua bukan aset bisnis dan artinya tokoh tersebut setuju dengan bisnis legal pantat.

Di sisi lain gebyar dunia malam menjadi sebuah peradaban baru berterompah indigo norma, racun norma. Indignitas, penghinaan atas moral agama menjadi tembang riang di mana-mana, termasuk mereka yang merasa beragama sekali pun ikut mencela moral. Berjilbab ikut demo menentang UU pornografi – kondisi macam demikian sudah cukup dipergunakan sebagai indikasi – bahwa mereka dengan suka rela dan bangga ikut melecehkan akhlaq. Sementara gerusan moral kian lembut dan nyaris tak terdengar. Rumpi makan dan teler, bar & restoran, juga full paha. Menjual – menawarkan apa saja harus menggunakan pantat. Dan pantat adalah lahan industri baru dalam sistem perekonomian dunia.

Paradigma Postsex

Bicara eksistensi yang dijenang-abangi oleh Karl Marx tak lepas dari sejumlah teorema aestetik, pun soal nilai seni di tlatah lekuk tubuh perempuan memang bukan barang baru. Yunani kuno sebuah misal. Patung dewi-dewi langit pun digambarkan obral aurat, meski masih agak sedikit canggung dengan menutup daerah sensitif dengan selembar daun atau ornamen tertentu. Kondisi ini pun bukan menyinggung soal keindahan bidari atau dewa-dewa, penelanjangan di ranah spiritual pun masih diberlakukan. Isa al Masih harus memikul salib dengan hanya bercawat. Untung saja tidak ditelanjangi.
Seandainya hal itu terjadi, yang malu bukanlah Yesus pribadi namun justru umat pengikut sang mesias.

Tiba-tiba saja saya menjadi malu manakala tak sengaja saya membaca pengakuan jujur masyarakat barat yang selama ini dituding musuh Islam secara nyata. Bernard Lewis, dalam Yahudi-Yahudi Islam menyebut, bahwa peradaban Islam, khusus menyangkut ketatanegaraan model khalifah, jauh lebih baik dibanding dengan model presidensial Amerika Serikat. Islam disebut sebagai new era, terompah peradaban kedap lumpur moral dan anti virus kezaliman. Yang memperangah saya, jika Indonesia diakui sebagai bangsa yang berpenduduk Islam terbesar di dunia – ironisnya dan sangat paradoksal – remuknya tata nilai justru lebih bersifat prahara dibanding negara paling sekuler sekalipun, Amerika sebuah misal.

Jika badai kultur yang dianggap sebagai sinkretisma, bisa jadi demikian, peniru lebih norak dari yang ditiru. Sementara di balik sendau gurau para belia yang nyaris tak merasa canggung mana kala tayangan suatu media televisi menampilkan sosok setengah siluet diri mereka dan dengan kepolosan (baca: bangga tampil sebagai siswa pelacur atau mahasiswa pelacur), lantas apa yang melatari lahirnya sebuah kebanggaan menjadi pelacur? HIV – AIDS bukan lagi momok seksual. Alat vital berulat bagi penjaja seks – pesan moral lewat bisnis sinetron berbumbu agama ini pun hanya pelipur lara bagi ibu-ibu yang masih taat pada akar rumput pemahaman spiritual mereka.

Gelombang pencitraan atas seluruh cakupan pelengkap kehidupan terus menghantam sisi-sisi mental manusia. Citra kasat atas gebyar yang ditawarkan dari seluruh lorong-lorong kehidupan – seluruhnya, siapa pun manusianya akan kian terengah – engah mengikuti kilauannya. Siapa pun di dunia ini tidak akan pernah mampu steril dari sebuah goda ‘hasrat’. Justru dari sisi ini pula para pembela pornografi membuat kekaburan batas – batas pornografi. Mereka lantang menyebut, bahwa para pembuat UU Pornografi tak jelas arah. Para lacur tak pantas disebut sebagai tak bermoral. Yang pantas disebut sebagai tak bermoral menurut pembela bisnis esek-esek ini adalah: ketidak-jujuran, korupsi, penindasan kaum wanita, kwota gender yang tak adil dan bukan gambar pantat di media cetak atau pamer lekuk kemaluan di gambar kaca. Justru yang menafikan keindahan lekuk tubuh perempuan dan mengharamkannya disebut sebagai munafik! Mengapa menampilkan keindahan musti dilarang? Ini persepsi sang pembela
.
Sungguh sebuah pertanyaan yang tak perlu dijawab: “…adakah mereka yang membela pamer aurat di sembarang tempat yang dilarang ini – memang mereka juga bangga jika anak-anak perempuan mereka jadi lacur dan anak-anak lelaki mereka bebas menghamili perempuan yang bukan pasanngan resminya?,” Pertanyaan ini sudah cukup jelas tanpa harus diucapkan.

…lahirkanlah anak-anak kamu lebih baik dari kamu… ini pesan tersembunyi dari nabi Qidir. Terlepas dari teks sakral yang kontekstual di sembarang tempat, kondisi dan demensi apa pun ini, jelasnya, tak ada satu ekor manusia pun yang bangga anaknya tak bermoral. Alih-alih melhirkan lebih baik, tidak memberikan teladanan buruk pun menjadi sikap langka.

24 juta anak-anak yang konon sebagai penerus generasi, sadar atau tidak sadar 24 juta anak negeri ini akan tumbuh dengan genangan ATM kondom. 3 ribu lebih situs internet yang menampilkan adegan mesum yang bisa diakses oleh anak-anak ingusan dengan biaya murah. Media cetak bagai virus kanker mewabah di seluruh pelosok negeri anak-anak. VCD super jorok dengan mudah didapatkan di mana saja, bahkan di warung desa terpencil sekali pun.

Jika realitas ini kemudian ditekuk ke dalam apologia, ‘itu tergantung setiap individu bagaimana cara menanggapinya. Dari sisi mana ia ditafsirkan. Kalau sudut niat awal adalah cabul maka keindahan tubuh wanita itu pun akan secara tidak langsung mengarahkan persepsinya berlawanan arah dari nilai yang hendak disodorkan. Sungguh itu kalimat model apa? Jika anak kecil menyaksikan persetubuhan, apakah pengambilan keputusan kebenaran atas apa yang kasat itu bisa dibelokkan? Sedang olah raga gulat misalnya.

Jika tak mau disebut naif apa tidak lebih pantas disebut sebagai tolol. Sekian juta situs virtual world dengan bebas menyapa setiap saat bagi siapa pun untuk menyantap menu baru cara bermain seks. Seks sudah tak beda jauh bahkan sama dengan menu makanan. Jika lidah mulai baal makanan konvensional, perilaku tradisi jadi barang loakan, maka soal kepekaan rangsangan seks pun mengalami kebaalan – di sini letak proyeksi yang dihasilkan oleh media komunikasi seks yang saya lebih suka menyebutnya sebagai plasentalis code, kode atau simbul maksiat yang bernilai ekonomi tinggi. Sebuah central komersial yang tak mengenal bangkrut apalagi merugi.

Hasil nyata dari industri pantat, banggakah kita menyaksikan anak-anak bau kencur memperkosa anak sebayanya? Ini masih gambaran kecil dari sebuah gambar besar yang jauh lebih hebat jurang yang menampilkan sampah moral di negeri ini.

SEMOGA MENJADI KEPRIHATINAN KITA BERSAMA
erry amanda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: