Kenaifan Kang Jamil


KENAIFAN KANG JAMIL

Pagi mulai merangkak, matahari mulai menyengat, langit menghampar biru lazuardi, kang Jamil belum juga berhenti, setidaknya makan siang yang telah dikirim istrinya, Sundari, beberapa saat lalu. Kang jamil seperti memburu waktu, takut hujan keburu datang sebelum sawah garapannya selesai dibajak. Dia tak takut banjir memang, sebab sawah tadah hujan yang ada di lereng bukit cukup tinggi, maka sekali pun suagai bengawan solo meluap, daerah kang Jamil tak pernah kebanjiran.

Sejenak ia menengadah ke langit, seolah membaca kapan hujan akan tiba. Sebentar ia mengusap keringat yang memenuhi wajahnya, kemudian kembali menghela sapi-sapinya untuk menarik baji bajak membongkar tanah. Dengan tembang parikan (sejenis pantun) atauwangsalan, kang jamil seakan menghibur diri untuk menghilangkan rasa capek atau lapar yang untuk sementara ditahannya.

balung janur, duh gusti kawuula nyuwun usada

Ini jenis parikan atau pantung yang sering sejkali kang Jamil lagukan, yang artinya, apa pun yang dilakukan oleh kang Jamil selalu memohon ridho Allah, dihindarkan dari berbagai penyakit atau penderitaan dalam bentuk apa pun.

Ketika kang jamil baru saja mau mengambil makanan yang dikirim istrinya, nasi dengan lauk ikan asin serta kulupan, lalapan yang dibungkus daun jati, dari jauh nampak kang Dirun berkelebat dengan langkah yang nampak sangat terburu-buru.

“Kang, ayo ikut makan, masih anget kang. Buru-buru mau ke mana?”
Kang Dirun menghentikan langkah, dari wajah kang Dirun nampak kesan ragu untuk berhenti.

“Suwun, Mil, lagi ana penting…”. nampak suara kang Dirun terasa dipaksakan. Sebenarnya kang Jamil tak ingin menghalangi kang Dirun, namun agaknya kang Dirun jadi tak enak jika tak menghampiri kang Jamil. Rasa tak enak itu bersumber atas tanggungan hutang yang belum bisa ia bayar. Sebulan lalu kang Dirun pinjam uang sekitar satu juta untuk menambah biaya [esta perkawinan anak semata wayangnya yang cukup meriah dan besar-besaran.

“Mil, sepurane yo, saya belum bisa menuhi janji saya. Panen tembakau tahun kemaren – kamu tahu sendiri kan, tak begitu bagus pembayarannya. Gudang rokok itu tak membayar seluruhnya, jadi ya… maaf janji saya untuk nglunasi utangku ndak bisa tepat waktu,” cerocos kang Dirun. Padahal kang Jamil tidak mempunyai pikiran seperti itu, sekali pun uang yang dipinjam itu sangat penting, untuk membayar pupuk di KUD.

Nek durung ana, jika belum ada, ya ga apa-apa lah kang, Alhamdulillahtanggungan di KUD sudah beres kok kang,”

Sepurane sing gedhe, maaf yang sebesar-besarnya Mil. Saya juga ndak nyangka kalau habis nikahkan si Bawuk malah seperti gini, banyak utang. Biaya 30 jutaan cuma balik 10 juta saja ndak sampai. Kamu tahu sendiri berapa biaya wayangan (menggelar wayang kulit), sudah lebih dari 20 juta, terus dang-dutan organ tunggal 5 juta, pokoknya gunggung kepruk, total keseluruhan, lebih dari 30 juta. Padahal sebagian besar dari utangan, modal sendiri hanya 10-an juta.

“Undangan saya sebar di beberapa desa dan dukuhan lho Mil, juga teman-teman menantu saya yang pegawai negeri itu. Saya punya pikiran, paling tidak dengan jumlah undangan, yang rata-rata saya ndak pernah absen untuk kondangan ketika mereka punya hajat, eh giliran saya sendiri yang datang ndak banyak. Jadi ya di luar yang saya perkirakan.

“Tadi baru saja saya datang ke engkoh Ging, ngijon, menjual padi yang baru ditanam, untuk membayar utang yang besar. Soalnya sudah diuber-uber Mil…”

Kang Jamil hanya senyum sambil menarik nafas dalam-dalam.

“Kang, mohon maaf, dan jangan katakan saya menyinggung perasaan kang Dirun. Nyubya-subya, merayakan besar-besaran untuk menyenangkan anak itu ndak ada salahnya, tentunya sesuai dengan kemampuan kita. Sebab menikahkan anak dengan mengundang para tetangga atau kerabat adalah sebagai saksi. Mohon maaf lagi, bukan karenaharga diri, agar diakui, hebatnya kita dengan pesta besar yang akhirnya membuat kita susah.

“Kang, hukum nikah itu setahu saya kok ya sederhana sekali, calon mempelai keduanya, saksi, wali, mahar dan ijab kabul, masalah menjamu, itu bukan wajib kok kang, ya semampu kita sajalah. Apalgi harus dengan hiburan…”

“Walaaah Mil, wong ya harus ngajeni, mengormati, mantu. Matuku itu orang kota Mil. Malu kalau ndak dirayakan besar-besaran.”

“Kalau mampu ndak apa-apa kang, tapi setelah itu kang Dirun jadi susah kan?”

“Itu tanggung jawab orang tua Mil. Itu sudah risiko. Demi anak satu-satunya.”

“Sungguh mohon maaf, mungkin ini sangat tidak menyenangkan hati kang Dirung. Saya dengan kang Dirun sudah bukan orang lain. Sudah seperti saudra sendiri. Dari jaman kita masih belum melek agama, kitta ngaji bareng pada Gus Muh.

“Gini kang, kang Firun itu menikahkan anak atau sedang berdagang, kok berhitung untung dan rugi?. Jika kang Dirun menikahkan, untuk menyenangkan anak, untuk menghormati anak mantu, mestinya ya ikhlas to kang. Ndak berhitung seperti itu. Ketidak-ikhlasan itu akan selalu menimbulkan kesulitan. Kalau ndak mampu ya jangan dipaksakan..”

Seketika kang Dirun bangkit dari duduknya dan meningalkan kang Jamil dengan mata memerah.

“Ngomong sama kamu itu sama juga omong dengan kerbau. Orang kok ngowah-owahi adat…!!!”

kembali kang Jamil hanya bisa menarik nafas panjang. Dalam hatinya berbisik. Ngowah-owahi adat, mengubah tradisi. Sesungguhnya adat mana yang saya ubah, kata kang Jamil dalam hati? Merayakan perkawinan besar-besaran itukah yang disebut mengubah atau meninggalkan tradisi? Kembali kang Jamil hanya bisa bertanya pada dirinya sendiri.

Tangerang, 06-2-2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: