HUMAN AGONY!


Misteri 
Kesengsaraan Manusia

oleh: Prof. DR. Hayatullah al Rasyid (erry amanda)

Makalah Pengantar Pengajian RIC

 

Epilog

Dalam tulisan ini saya coba sedikit membuka selimut ‘aneh’ perilaku berpikir serta di mana sebenarnya posisi idea yang saya berangkati. Hal ini saya anggap perlu, sebab bagi siapa pun yang baru mengenal pola berpikir saya serta wacana-wacana yang muncul – akan sering bersifat jungkir balik. Tak jarang yang berasumsi, bahwa di mata saya nyaris tak ada yang benar menurut cermin kebenaran yang saya ambil. Sering suatu masalah dikritik habis – pada kondisi berikutnya justru malah dibela mati-matian. Ambil saja sebuah pertanyaan yang sering muncul, : ‘…… sebenarnya di mana posisi Anda? Sains, Agama atau berada di antara keduanya? Apakah Anda ingin menyatukan agama dengan sains atau berupaya menghentikan pertikaian sejarah panjang dua kelompok yang tak akan mungkin dirukunkan?’

Pertanyaan model ini wajar. Bisa dinalar jika membaca pikiran saya, baik yang tertulis maupun yang terucap (leksikal), masing-masing hanya bersifat verbal dan selintas. Ada pula yang coba menarik benang merah antara perilaku Keirkegaard dan perilaku saya. Pemikir paruh akir abad 19 ini dinyatakan nyaris sejajar dengan apa yang saya lakukan. Bagi saya persepsi yang terakhir itu tak pernah saya tanggapi dan membebaskan siapa pun berpendapat soal saya.

Satu hal yang perlu saya jawab, ‘…apakah saya punya misi menyatukan antara sains dan agama?’ Jawab saya ‘tegas’, tidak!’ Kemudian, saya ada di posisi mana? Agama atau sains, atau berada di tengah-tengah? Saya ada di keduanya. Saya juga bergelut di dunia sains yang sekaligus bergumul erat di tlatah agama. Pun demikian saya tidak mimpi ingin menyatukan ke duanya. Keyakinan saya, sangat muskil dua ranah tersebut dikawinkan. Kebenaran yang di jelajahi dari keduanya – masing-masing, meski bisa disebut sejajar – namun memiliki jalur yang berbeda, maka hal tersebut tidak mungkin dipertemukan. 

Justru saya lebih cenderung membiarkan kedua ranah tersebut tetap berada di rel masing-masing. Demikian pula halnya dengan sikap saya. Ketika saya berada di ranah sains, cara berpikir saya ‘murni’ sains. Begitu pula saat saya berada di entitas spiritual, seluruh jaringan hidup dan kehidupan saya berenergi ‘spiritual’. Jika tiba-tiba saja saya mengobrak-obrik dunia sains – saat itu sebenarnya saya tidak berseberangan dengan kemurnian ilmu dunia itu, sains, artinya saya tidak sedang berada di persimpangan dari keduanya. Apa yang saya lakukan lebih kepada otokritik – jadi bukan berdiri sebagai kelompok spiritual yang menggugat perilaku sains. 

Manakala saya membedah realitas di entitas sakral, sebenarnya saat itu saya bukan berada di tlatah sains namun masih berada di jantung spiritual itu sendiri. Sederhananya, jika mau menelisik lebih dalam, saya ingin keduanya berada pada sisi masing-masing, tugas masing-masing, mengambil keputusan realitas kebenaran masing-masing dengan tanpa mengotori substansi kebenaran yang hendak dijelajahi. Hanya itu. Jika keduanya memutuskan sikap menjelajah ruang wujud (eksistensialisma) sebagai tugas menguak misteri kebenaran yang tersembunyi, lantas apa yang perlu dipertikaikan dari dua kepentingan yang bersubstans sama?

Perbedaannya hanya media data ungkap, baik yang bersifat kondisi maupun dimensinya. Sains tak begitu penting menuntut agama mampu mengujutkan teorema serta terma-terma kebenaran yang bersifat imajinal dengan menyertakan dalil-dalil matrikal atau fisik kasat. Begitu sebaliknya, agama tak menjadi begitu penting menuntut sains menyembah Tuhan atau tunduk pada teorema kebenaran ‘hidayah’.

Pengalaman kemanusiaan saya secara pribadi, saat pengambilan keputusan kebenaran bersandar pada disiplin kebenaran sains – dunia spiritual saya sama sekali tak merasa terganggu begitu pula sebaliknya. Ketika hasil temuan – dalam bentuk apa pun – ternyata memiliki risiko besar terhadap wilayah kehidupan secara umum, pertanggungjawaban moral saya senantiasa sama sekali bukan ditimbulkan oleh sikap nalar agama yang saya geluti namun masih tetap berada pada korelasi daerah di mana saya berada. Yakni, tanggung jawab moral secara ilmu pengetahuan, sains. 

Manakala saya berpetualang di dunia kosmik mayawi, metakosmis, yang bersandar pada nilai-nilai religiusitas – logika kosmik yang sedang saya masuki ternyata membobol bendungan keyakinan spiritual itu sendiri, kondisi ini pun saya masih tetap berada di ruang jelajah gagas saya semula, agama. Padahal risiko yang ditimbulkan – kurbannya bukan sains namun justru agama itu sendiri – ini sebuah misal, katakan – ini juga sikap otokritik bagi dunia lain di dalam diri saya selain dunia sains. Jika diri saya bervariabel A dan B – maka saya bebas melakukan otokritik yang terpisah, artinya otokritik untuk A bukan bersandar pada kebenaran variable B – begitu pula sebaliknya. 

Dalam otokritik dari keduanya saya tidak meletakkan ‘harga’ kepentingan pada diri saya namun lebih memberikan harga kepada ‘nilai-nilai kebenaran keduanya, sains dan agama itu sendiri dan bukan sosok pencanang koreksi kebenaran tersebut.

Pernyataan di atas bisa ditarik garis simpul, bahwa saya sama sekali tidak berkeinginan menyatukan dua jalur kebenaran yang selamanya akan selalu bersikap tegak lurus. Entitas sains yang menafikan keberadaan Tuhan namun tidak mencoba melakukan persinggungan atau mempersoalkan kebenaran ‘keyakinan’ kebenaran agama, bagi saya adalah sah – di mana setiap individu memiliki kebebasan untuk menafsirkan nilai kebanaran dalam wujud dan ketakterhinggaannya.

Boleh saja sains mengklaim hanya kelompok masyarakat ranah ini saja yang mampu menerjemahkan sejumlah misteri keberadaan alam raya serta isinya. Ekosfer dan biosfer sebagai rumah kediaman biota – masyarakat ilmiah telah mampu menguak dan mewujudkan sejumlah fenomena kehidupan, namun tak layak menempatkan mereka sebagai pemilik kebenaran tunggal atau otoritas kebenaran. Apalagi berbanding terbalik dengan kebenaran entitas lain. Akan halnya agama, jika kebenaran yang diyakini bersifat otoriter dan menafikan kebenaran lain, hasil akhir akan berujung pada pertikaian kebenaran sampai pada pembusukan kebenaran yang sebenarnya ingin dijelaskan. Kondisi ini pun berlaku di ranah mana pun. Penjejalan kebenaran yang harus diterima mutlak – tanpa syarat – selalu akan menampilkan sejumlah teorema kebenaran apologis dan radikal. Di entitas mana pun, kelompok kebenaran mana pun akan memunculkan panji-panji fundamentalis ‘penganiayaan kehidupan’.

Jawaban yang agak meliuk di atas adalah wajah posisi saya yang sebenarnya – itu pun bukan tidak mungkin masih cukup membingungkan jika penanggap masih terperangkap ke dalam fanatisme kebenaran dari masing-masing ruang keberadaan suatu entitas itu sendiri.

Dan sebetulnya, uraian di atas adalah merupakan titik tumpu di mana ‘Kesengsaraan Manusia’ sebagai judul makalah kecil ini hendak saya mulai. Sejumlah kesengsaraan yang bermuara dari ruang gagas yang sering liar dan dingin. Jelajah atmosfer idea yang apa pun wujud kajian dan realitas kebenaran yang diuji dan difahami – tak satu pun yang tidak melahirkan kekacauan pikir dan kesengsaraannya – di ranah mana pun.

Jalur Pacu Kesengsaraan

Diakui atau tidak, suka atau tidak suka, bahwa starting point, titik awal, keberadaan kita sebagai makhluk adalah berbekal kerisauan. Di mulai sejak awal malaikat mempertanyakan keberadaan manusia kepada Allah dan Adam yang berkewajiban menjawab pertanyaan tersebut. Kemudian kerisauan Hawa perihal khasak-khusuk ‘buah larangan’ yang ditiupkan iblis dan berlanjut sampai ‘entah’. 

Kesengsaraan humanis ini memang berakar pada pola pikir dengan sejumlah komponen penunjangnya, baik yang berdasar pada logika nalar hingga pada misteri bahasa non organ (jiwa atau roh). Dorongan substansif di luar kesadaran kasat, yakni keingintahuan yang terus menjelajahi lingkaran kehidupan, baik yang mewujud (eksist) hingga pada tata reka mayawi dalam ruang mithos – merupakan produk kesengsaraan yang terus menyelimuti tata ruang keberadaan kehidupan.

Dalam arus perjalanannya, sejumlah temuan, pengambilan keputusan nilai kebenaran atas ‘tantangan misteri’ alam fisik yang menggoda untuk ditelusuri, nyaris bervariabel ‘pertikaian kebenaran’ dalam kelompok – kelompok penguak kebenaran – yang hingga kini terus bersilang-silang dan bahkan tegak lurus di antara sejumlah kebenaran yang ada.

Napak Tilas Pergulatan Awal

Ribuan pemikir awal, dari jaman Yunani kuno hingga kini tak pernah henti membincang muasal sejarah peradaban – termasuk sejarah awal terbentuknya alam fisik jagad raya ini. Teori matematika ditetapkan sebagai dasar ukur rentang jarak ‘ruang’ dan ‘waktu’ beosfer, bumi manusia. Fosil-fosil ditetapkan sebagai responden atas jumlahan waktu keberadaannya yang kemudian ditetapkan sebagai ratio padanan lingkungan materi seangkatan. Hingga kini teori kajian ‘waktu’ dengan ilmu arkeologi yang menguak usia fosil secara umum diterima secara mutlak, setidaknya bagi aplikator pencetus ilmu itu sendiri. Pun demikian, adakah validitas ilmu tersebut benar-benar sebagai jaminan akurasi pengukuran? 

Jika dijawab ‘pasti’ jelas ada kebohongan besar yang disembunyikan untuk membela ‘keberadaan dan kebenaran ilmu’ itu sendiri. Ini pun salah satu bagian keraguan manusia yang kemudian melahirkan kesengsaraan mind (otak) manusia. Jika kebenaran teori arkeologi saat ini masih tetap diberlakukan, semata sebagai dasar preparat kajian yang bersifat sementara yang dibakukan.

Kerisauannya

• Dasar apa yang dipergunakan serta alat kaji penunjang apa yang mampu menetapkan matra waktu yang sesuai?
• Adakah jumlah manusia di bumi pantas sebagai rujukan lamanya makhluk hidup ini berada di bumi? Dengan modal statistika morbilitas dan mortalitas, kelahiran dan kematian, termasuk kemampuan manusia bertahan hidup – umur manusia, umur bumi hendak ditegakkan?
• Usia bumi hanya didasarkan pada fosil kayu, binatang, batuan dan sejenisnya? Kayu tertimbun longsoran dari jaman es kemudian berubah bentuk jadi batuan – teori ini kemudian disimulasikan di pabrik dan lahirlah rasio besaran sebagai dalil data ungkap yang memadai?

Kesengasaraan yang harus menerima jawaban aksiomatis kebenaran ilmu pengetahuan ini pulalah yang melahirkan berbagai sumber petaka hasrat kuat untuk saling bertikai. Sebab standar ilmu yang dibakukan dianggap sudah melewati dapur uji yang sangat ketat sebelum diferifikasikan, maka harus rela menerimanya dengan mutlak.

Ruang gagas tak berbatas dan lebih bersifat rumit – sering berada di luar nalar sadar – di mana pun keberadaannya, baik ranah spiritual maupun eksakta, ia sering sulit untuk dikendalikan arahnya. Munculnya pun sama sekali bukan benar-benar arahan di mana ruang gagas itu berada (personal). Boleh jadi – lantaran kerumitan teorema kerja pikir tersebut sering diterima sebagai ilham atau idea dasar.

Penderitaan mengindera kerja alam pikir manusia, hewan atau biota lainnya kian melebar manakala kita coba bertanya: ‘….jika munculnya idea atau kreasi pikir atau imagi atau ilham berada di luar kesadaran, lantas dari mana muasal dorongan untuk berpikir, menganalisa, bertanya, ingin tahu dan kemudian mencoba menggali kedalaman misteri yang diamati?’ Jawaban naifnya (pertanyaan jawaban): ‘…jika demikian, di dalam jasat hidup terdapat jasat lain yang sesungguhnya lebih berperan dalam menentukan segala sesuatu, sementara jasat yang kasat hanya sebagai medium pelaku pekerjaan yang sudah dikerjakan sebelumnya.’ 

Teknologi saraf coba menjawab bagaimana kecanggihan serta kerumitan kerja otak dalam mengungkap misteri realitas di luar kesadaran wujud kasatnya, namun sejauh itu hanya terhenti ke suatu sistem kerja yang melahirkan metodologis, teorematikal saja. Keadaan ini masih menyisakan sejumlah pertanyaan besar, bagaimana susunan saraf dengan bagian-bagiannya memiliki tugas-tugas mekanikal yang begitu teratur, tetap, otomatis dan sempurna dengan tanpa ‘tugas suruhan’. job deskrifsi? Meski sistem kerja otak ini kemudian mampu diadobsi (rekayasa genetika) ke dalam berbagai mesin perintah yang nyaris setara dengan otak, titik jelas komponen tersebut memiliki kecerdasan yang sedemikian – ‘bagaiamana awal terbentuknya kesadaran untuk berperilaku, bersifat dan bekerja sama antar komponen ditetapkan?’ Jawabannya adalah tetap kesengsaraan menyisir silk road data ungkap awal.

Mengapa saraf limbik bertanggung jawab atas sejumlah perilaku biota yang bernama manusia? mengapa semua perbuatan manusia terekam seluruhnya ke lipatan-lipatan cepalus? mengapa talamus bertanggungjawab pada sistem perintah? mengapa kortek kiri dan kanan beda tugas? mengapa suatu perilaku, kepribadian, kebiasaan dan sifat-sifatnya diproduk di dalam saraf? Mengapa sebagian besar makanan otak adalah glutamin? mengapa seluruh manakan yang dimakan bisa diubah menjadi berbagai macam jenis yang sangat berbeda dari asalnya? hidrat arang bisa berubah jadi zat gula berubah lagi jadi glukogen, laktogen, selulosa, seluler dan sebagainya? Setelah jadi menu, jenis menu yang bermacam-macam dikirim ke depot-depot yang sesuai dan tak pernah keliru? Sisa makanan di buang pada tempat sampah masing-masing. Yang dari colon, perut besar – lewat dubur, yang dari paru dan sistem pernafasan lainnya lewat hidung. Yang produk telinga, residunya tak akan dikirim ke mulut. Yang dari ginjal tetap melalui kantung kemih dan seterusnya dan tak akan pernah terjadi 
mechanical error kecuali jika terjadi over size mesin tertentu.

Pakar neuro dunia hanya akan menjawab sederhana, ‘….sudah dari sononya’,
hukum alam. Kerja kimia yang tunduk pada hukum fisika dan tunduk lagi pada hukum matematika. Dan kesengsaraan untuk mengetahui dasar pertanyaan ‘mengapa begitu’ tak akan pernah usai dan tak akan pernah
terjawabkan. Manusia pun diijinkan terus menunggu jawaban yang tak akan pernah terjawabkan. Jika usia penelitian ilmiah sudah lebih dari satu juta tahun dalam bentuk kajian yang berbeda dan dengan akompanimen yang berbeda pula, jawaban substansi kerja dan bentukan materi pada lingkungan awal, protoekologi, baik ekosistem sampai pada ekologi jagat raya – hingga kini masih menjadi pekerjaan rumah yang tak terselesaikan. Sistem clonning pun hanya sistem tiru yang sudah ada dan bukan teknologi genetika murni ciptaan baru dan beda asal.

Realitas Simulakrum

Jejak-jejak ‘ledakan akbar’ awal genesis biofer dicanangkan, realitas simulakrum (dublikat kebenaran dari dublikat kebenaran yang kebenaran asal tak pernah diketahui) – hingga kini masih disepakati kebenarannya. Tak perduli, benar atau hanya kebenaran imaginer teori tersebut, keduanya masih pula menyisakan ruang untuk diperdebatkan. Pengukuh teori dan sejumlah pendukungnya tanpa menyadari sepenuhnya, bahwa validitas ilmu pengetahuan, apa pun bentuknya, tak pernah stiril dan rentan falsifikasi – sementara teori Big Bang sama sekali tak mengenal falsifikasi. Akan menjadi sangat beda manakala petualangan Icarus yang coba mengakali grafitasi dengan menggunakan katapel raksasa yang misil (pelurunya) dia sendiri dan dilepaskan ke udara. Semula Icarus berpikir ia dapat melayang di udara seperti burung. 

Data ungkap kreasi khayal ini adalah sebuah usaha pemahaman bagaimana burung mampu terbang dan netral dari grafitasi? Realitas angan model sederhana ini pun sebuah ungkapan kesengsaraan manusia untuk menjajaki kemungkinan dari ketakterhinggaan kemungkinan. Diam-diam sejumlah orang kemudian bertanya, mengapa burung bebas dari pengaruh magnet bumi, ikan atau komunitaas air mampu bernafas dan bergerak bebas di dalam air? Manusia pun coba meniru dan dalam perkembangannya – ilmu pengetahuan dan teknologi padanan alat yang nyaris setara dengan komunitas air, bahkan besi puluhan ton dengan perabotan canggih (kapal selam) mampu bersaing dengan komunitas air. 

Aplikasi perilaku hayati dalam komunitas yang disebutkan di atas mudah ditelusuri kerangka kerja dan teorema serta metodologinya. Obyek materi yang dianalisa, diamati, pola kerjanya serta sistem-sistemnya bisa ditangkap indera kasat, empiris. Bagaimana dengan teori big bang? Reka nalar perihal maujudnya material jagad raya tanpa disertai terma-terma yang jelas. Bisa saja teori ini beranjak dari pengamatan perilaku genom manusia atau genom biota secara acak. Dari satu titik (di antara 200 juta) spermatosoa yang membuahi ovum – dalam waktu kurang dari sepuluh bulan mampu membentuk wujud yang menakjubkan. Dari ruang padanan nilai ini, termasuk rasio padanan rentang waktu bentukan wujud, bisakah dipergunakan sebagai dasar kajian perihal muasal jagad raya ini berujud, eksist, dari satu titik kecil yang meledak dahsyat dan kemudian melahirkan teori kabut dan seterusnya?

Keraguan dan falsifikasi yang mengambang mengikuti perjalanan teori ini adalah; ‘substansi alam fisik, ledakan suatu material adalah terjadinya kemampatan energi yang tertahan oleh kekuatan materi lainnya sehingga pada optimasi besaran energi yang tertahan akan mendorong materi tahanan dan terjadi ledakan. ‘Titik agung’ tersebut berada di mana sementara ruang dan waktu masih belum maujud? Jika jenis materi tersebut bisa dianalisa bentuk dan kandungannya, alat apa yang dipergunakan untuk melacak ulang serta diorama kejadian masa purbani alam raya ini? Dari mana kata ‘helium’ isi titik yang meledak tersebut didapat? Bagaimana mungkin matematika yang menghitung proses kejadian awal tersebut mendahului pra kejadian?

Kegamangan menerima teori big bang, meski masih riuh didebatkan, keabsahan teori tersebut dianggap valid, meski kesengsaraan, tanpa menyertakan logika nalar pun, masih merupakan hantu ilmu pengetahuan hingga kini. 

Kesengsaraan humanis perihal ilmu ungkai material ilmiah ini kian biak manakala, ternyata, apa pun hasil temuan di bidang sains dan teknologi, mencakup kerumitannya, adalah merupakan aplikasi dari teknologi asal yang teorema matrikalnya sudah disertakan, setidaknya tersediakan untuk dihitung dan dipadankan, bukan sekadar isomatrikal dan similaritas bentuk, namun bisa dikembangkan. Sebut saja sederhananya, daging dipadankan besi, gen diaplikasikan ke chip dan seterusnya, computerize.

Dari perjalanan panjang ilmu pengetahuan dan teknologi, baik dasar maupun rekayasa, seluruh kajian materi ilmiah, masing – masing memiliki kecerdasan yang saling terikat. Satu kecerdasan membutuhkan kecerdasan lainnya untuk mengujudkan bentuk nilai multi kecerdasan. Metal dipukul bisa mengeluarkan denting bunyi yang berbeda dari bentuk dan ketebalan yang berbeda pula, bunyi yang lahir bukan semata kecerdasan otoritas metal itu sendiri, namun masih membutuhkan materi lain untuk melahirkan kecerdasan bunyi metal. Udara sebuah misal – di mana bunyi yang merambat dari getar nada yang timbul masih membutuhkan kecerdasan membran telinga untuk menyatakan dinamika irama metal yang dipukul. Aplikasi teknologinya adalah lahirnya polyphonic dengan potensio di peralatan audio musikal, pita cellulosa recorder, sebuah misal. Soal yang terakhir ini adalah pola tiru dari kecerdasan main memory di otak manusia dan binatang.

Tidak semua manusia risau dan sengsara oleh perilaku material ilmiah yang disintesakan ke dalam kurikulum pendidikan. Bagaimana gambar bisa muncul di layar kaca seperti kisah ‘cupu’ yang diperebutkan Subali dan Sugriwa dalam kisah pewayangan Ramayana. Namun indigo substansif, kesengsaraan lain yang bermuara dari satu model masih tak mampu dihindarkan.

Mesin hasrat yang dengan tanpa pendorong rangsangan pun sudah dibekalkan pada mesin hidup yang ada di dalam diri manusia, apalagi kompetisi pemenuhan hasrat, passion, terus membangun landas pacu, circuit, kesengsaraan humanis kian bermahkota. ‘Mengapa bangga memiliki begitu cepat berakhir? Mengapa kebahagiaan, suka – cita, hanya sebuah kilatan peristiwa dan berujung ‘hampa?’ Mengapa stereo dolby harus tunduk dengan temuan baru yang bernama suround? Mengapa gambar plasma muncul belakangan hingga produk dvd, digital video disc, harus berpacu di landasan lain yang harus ditemukan sendiri. Mengapa manusia tak pernah puas dengan satu temuan dengan fungsi yang sama? Televisi yang awal kemunculannya, BW, dianggap spektakuler dan harus rela dimuseumkan, padahal teve plasma juga hanya menampilkan gambar jauh? 

Dari mana mesin penggugat ketidakstabilan emosi memiliki ini dipancarkan? Benarkah perilaku yang membingungkan ini tidak memiliki stasiun pengolah data dan pemancar utama? Adakah semua terjadi dengan serta-merta, all it once, liar dan menggoda setiap saat tanpa ketetapan rancang bangun mesin dengan keteraturannya, determinis? Benar, soal kesengsaraan yang dibicarakan ini bukan berada di lembar sosial manusia namun di lembar substans dan lebih tak bersifat organik. Boleh saja disebut sebagai ‘tubuh tanpa organ’ untuk menghindari istilah ‘roh’.

Ranah ilmu di luar sains juga sibuk mengejar ‘bayang wujud’ yang bernama roh atau jiwa dan dalam perjalanan panjangnya, bahkan jauh lebih meretas kesengsaraan yang makin panjang. Substansi non organik ini muncul sebagai pertikaian pribadi yang kemudian membentuk kepribadian komunitas dan hingga saat ini ‘teknologi mayawi’ yang berbasis mithologi ini kian menyiksa substans itu sendiri. Benturan hyper realitas dengan melahirkan sejumlah misteri mesin, kekokohan jalur anomali yang seharusnya tak perlu disentuh semakin nekat ‘ngawur’ yang berujung ‘melahirkan masyarakat hipnosis sosial dan teka-teki keberadaan’ yang dijungkir-balikkan. 

Perlawanan transendensial terhadap immanentis, profan sekularis, diam-diam ‘kelompok berkah realitas mutlak’ yang bersifat relevasi, kewahyuan, malah berujud liberal, salang tunjang dalam bentuk derivasi dewani, duplikat kesaktian kelangitan. Ini pun perjalanan kesengsaraan manusiawi. 

Jika seluruh jalur kehidupan di ruang mana pun, sosial, politik, budaya, teknologi, spiritual teistik dan sejenisnya coba di masukkan ke dalam mesin cuci peradaban, ketika diperas akan memperlihatan wujud yang sama sekali persis, ‘penderitaan menggali detail realitas, yang kasat maupun yang ‘bayang bentukan di luar kesadaran’, mimpi, ilham atau apa saja yang berpetualang di istana imago. Boleh jadi apa yang terjadi adalah merupakan ‘penderitaan genotip, bawaan asal, dan bukan genetik, keturunan.

Posmo telah usai, meski masih banyak orang-orang bermain di pelataran posmo yang senja pun telah terlewati, post strukturalis sudah uzur, integralis hanya riuh di meja judi ‘penalaran mungkin’, cyber human gagal di katalisator, dan sains pun kehabisan materi yang hendak di tiru, strategi kehidupan yang diangkut oleh teori fisika startreck, dan “…… sebenarnya manusia itu selalu berlebih-lebihan’ yang tanpa disadari menjadi mesin yang menyengsarakan diri sendiri. Teguran pemilik jagad yang diabaikan, lenyap di antara derap langkah sepatu peradaban dan bising oleh deru mesin ‘kekuasaan’ berebut nilai ‘paling’ bernilai dan berhak menguasai, mengatur serta menentukan nasib secara globalitas. Dan ujungnya tetap kesengsaraan, baik yang menguasai dan yang dikuasai. Dongeng agung masa silam mulai diolah, yakni kehidupan abadi yang dilakoni oleh manusia kera putih, Hanoman – yang fiksi ilmiahnya telah mendongeng soal keberhasilan clonning manusia futuristik. Kondisi ini bukan barang baru. Sejarah kelampauan para utusan dewa sampai utusan Allah Aza Wa Jalla, terakhir yang memperkenalkan mesin waktu sebelum Albert Einsteins, Rasulullah Muhammad SAW, dengan Isra’ dan Mi’raj, adalah merupakan sandi futuristik yang juga tak kebal dari penderitaan nalar.

Pemandu rasul adalah sinar, substansi materi wujud malaikat Jibril, yang menembus ruang dan waktu, time tunel, apa yang perlu dipertanyakan ulang perihal kesahihan teorema ruang dan waktu serta kebenaran realitas di dalamnya terhadap perjalanan malam rasul Muhammad 15 abad silam? Teori ini ada dalam katalis fisika relativitas, determinisme. Koneksitas kesengsaraan manusiawinya masih berada pada pelacakan ulang atau rancang bangun pembuktian ulang sehingga mampu direproduksi dan diferifikasi. Tak salah. Manusia memang harus larut dalam penderitaan substansial dirinya. Petualangan untuk mengetahui dan membuktikan adalah sebuah rancang bangun lain sebagai risiko penderitaan itu sendiri.

Komunitas hidayah yang hanya menggunakan satu mesin utama, yakni yakin, ia pun tak mampu keluar dari kabut kesengsaraan manusiawi. Kematian sementara dan kehidupan abadi yang terjanjikan, dalil aksiomatis metakosmis ini pun ruah dalam pertikaian panjang antar keyakinan itu sendiri – apalagi diseberang kebenaran tandingannya, ateis.

Lahir, mati, mortalitas, morbilitas, kedua ranah sepakat ada dan pasti. Kepastian dan kemutlakannya tidak serta merta menenteramkan diri justru melahirkan penderitaan lain yang koherensi. Pertumpahan darah hanya untuk sebuah kajian kebenaran ruang duduk masing-masing komunitas terus berlangsung, padahal titik akhir adalah ‘mati’, tak ada yang tersisa. Teorema yang ditinggal pun akan mati dengan tesis baru yang meluncur dari kandang revitalisme kebenaran (baca: revisi kebenaran).

Sungguh tidak mungkin dan arogan jika uraian pengantar ini mampu mencukupi dalil atau teorematik metodologis materi kesengsaraan manusiawi yang bersifat unlimited ini. Setidaknya, gambaran sederhana ini menggugah diri kita, bahwa kesengsaraan dan pertikaian hidup adalah substansi kehidupan itu sendiri. Tak ada yang bisa diselamatkan di dunia ini selain menerima risiko yang linier dengan kehidupan itu sendiri. Manusia hanya dibekali kesadaran untuk mengelola, memanage dan mengembangkannya dalam teorema time motion management, tak lebih dari itu, sebab:

semakin banyak ruang yang dimasuki – memungkinkan seseorang akan semakin tersesat di dalamnya. Kesengsaraan kian meluap lantaran isi ruang yang tersaji di dalamnya kian tak terjangkau oleh hitungan bilanngan biner sekalipun. Semakin sempit ruang yang dimasuki semakin kerdil tatap realita dengan kaca mata yang dipergunakan hanya satu dimensi, non prismatik.

Tidakkah “fanatisme buta” lahir dari keterbatasan ruang kajian serta menelan mentah dari sejumlah nilai yang sulit membedakan mana substansi dan mana kondisi. Sementara semakin banyak ruang yang di masuki hanya bersandar pada nilai pengetahuan dan tidak bersandar pada nilai-nilai lain sebagai pendukung pemandu nilai- nilai kehidupan yang bersifat spiritualisma metakosmis – maka epifenomenalogi yang hanya melahirkan teorema ontologi di ranah sains material semata justru sering menjadi semacam penyesatan yang tak tersadari.
Jika mau jujur dan sombong diri, agar tak kerdil, agar tak sesat, masukilah ruang dari segala ruang, cahaya dari segala cahaya, yakni agama dan sains sekaligus!

20 mei 2006

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: