BERDOA …. APA MENGELUH?


Oleh : Lamto Widodo

“Kamu sudah tidak waras ya Har, jadi kamu sukses jualan rujak di Jakarta itu karena kamu suka pergi minta sangu mbah dukun to?” sebuah pertanyaan Kasman kepada Harto. Harto baru pulang dari Jakarta, sukses bisa beli motor baru, bangun rumah, walaupun hanya jualan rujak buah di daerah Manggarai.

“Sik to kang. Kamu kok nuduh saya yang macem2. Apa aku ini sudah siap jadi kerak neraka? Aku ini juga teman ngaji sampeyan karo kang Parlam. Kita ini murid2 Kyai Rasyid yang babar blas tidak mengenal sipat kandel (jimat) dari segala macam dukun . Itu kan syirik. na’udzubillah kang” Harto menjawab dengan nada datar walaupun agak tersinggung.

“Tidak mungkin … tidak mungkin. Kalau hanya jalan lurus, mana mungkin kamu tahu2 bisa beli motor, bangun rumah, perabotan2 baru” Kasman masih belum bisa menerima alasan Harto. Pernyataan ini bukan tanpa dasar, karena gosip yang berkembang di desa Sawur, barang siapa yang ingin sukses merantau, harus bawa “sangu” dari mbah Satru, seorang sepuh yang dianggap punya tuah. Bahkan dia dengar Harto juga pernah ikut nganterin saudaranya ke mbah Satru.

“Sebentar … ini sesama teman kok tuduh menuduh.” Parlampun ikut nimbrung pembicaraan. “Dugaan Kasman juga ada alasannya, dan saya yakin tujuannya baik untuk mengingatkan kamu Har. Kita juga tidak rela kamu terjerumus syirik. Sekarang kamu harus jelaskan bagaimana bisa sukses sehingga Kasman tidak berpikiran macam2”.

“Begini kang, pertama, betul bahwa aku sudah nganterin Gimin ke Mbah Satru, karena dia kan sepupuku, minta tolong anterin karena aku punya motor. Aku tidak enak menolaknya. Kedua, ketika saya dengar dari Mbah Satru, katanya banyak yang sudah berhasil di Jakarta setelah ke rumah beliau. Di sini aku seperti ditantang to kang. Coba sampeyan2 pikirkan, kalau orang yang musyrik, jelas2 menyekutukan Allah, minta tolong dukun atau jin … bisa sukses, bagaimana mungkin kita yang lillaahi ta’ala, minta tolong dan berdoa langsung pada pemilik alam ini, kok akan sengsara. Tidak mungkin kan? Apa kang Kasman meragukan bahwa pertolongan Allah tidak jelas dibandingkan pertolongan dukun dan jin?” Harto mulai bercerita ihwal kesuksesannya. Kemudian dia masih melanjutkan.

“Aku terpicu dengan nilai2 aqidahku kang, maka aku kemudian rajin berdoa, berpuasa, shalat malam, sadaqah untuk dhedhepe- mendekat kepada Gusti Allah. Lha secara lahir aku juga perhatikan, teman2 yang dapat sangu Mbah Satru itu kerjanya rajin, utun, totalitas. Mereka yakin akan berhasil dan benar2 berbuat yang terbaik. Sementara teman2 yang kamu sebut lurus2 saja itu ternyata hanya kedok saja ke masjid, dengan Allah bukan berdoa tetapi mengeluh …. kenapa sudah shalat jengkang-jengking kok tidak berhasil, sementara tindakannya lemes, apa adanya, pasrah. Aku tidak setuju seperti ini kang. Maka doaku tadi aku barengi dengan ikhtiar yang maksimum , totalitas juga. Aku belajar bagaimana nyusun dagangan yang rapi, pilih buah2 segar yang bagus, buat bumbu yang enak, aku kemas dengan higinis, aku cari tempat mangkal yang strategis, aku tawarkan dengan senyum …… keuntungannya tidak aku habiskan untuk makan apalagi foya-foya. Ya alhamdulillah kang, aku dapat nabung.” 

Sejenak mereka bertiga diam, masing-masing mencerna kebenaran ucapan Harto. Kemudian Parlam menyambung, “Benar sekali kamu Har. Aku jadi kagum sama keutunan dan kejujuranmu. Luar biasa. Mestinya kita ini malu. Jika yang nyembah syetan atau jin atau ke dukun bisa sukses, masa kita yang setiap hari mengagungkan dan menyebut namaNya terpuruk. Kata kuncinya ya bagaimana kita bisa menjadikan aqidah kita ini sebagai pendorong semangat kerja, menjadi landasan untuk berbuat yang terbaik, kata orang sekarang profesional … bukan kerja asal-asalan toh rizki sudah diatur. Itu hanya apologi, mencari pembenaran saja untuk mengeluh dan menyalahkan Gusti Allah. Saya yakin ajaran kanjeng nabi yang luar biasa. Waktu beliau jadi pedagang juga menerapkan cara dagang profesional sehingga menjadi saudagar sukses. Itu yang perlu dicontoh”. 

“Waduh, kalau begitu maafkan aku Har, soalnya aku terbawa emosi untuk menasehati kamu.” Kasman mengulurkan tangan minta maaf ke Harto. 

“Gak apa-apa kang, aku juga bersyukur sedulur2ku ini masih sangat cinta sama aku, masih mau mengingatkan, saling menasehati. Karena demikianlah ajaran kanjeng nabi yang sering disampaikan di pengajian Kyai Rasyid.”.

Senyum akhirnya terkembang di bibir tiga bersaudara yang sedang cangkrukan di tritis rumah Parlam tersebut. Obrolan kemudian ditutup dengan makan ubi bakar dan kopi jahe yang sudah disediakan Wulan, istri Parlam.

Jakarta, 1 Maret 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: