MAULID ARTIFISIAL


Oleh : Lamto Widodo

Hari ini tanggal 11 rabiul awwal, di kampung Sawur sedang mempersiapkan acara malam maulid nabi. Di surau Al Barokah sudah dirancang beberapa acara. Yang pertama adalah “kendurian” dimana para warga membawa nampan berisi makanan dibawa ke surau untuk didoakan pak modin dan dimakan beramai-ramai, katanya untuk “sedekah”. Kemudian nanti malam ada pengajian kyai Rasyid. Untuk acara kedua sebenarnya beberapa pengurus kurang setuju, sebab biasanya kyai yang satu ini banyak kritiknya, pedes di telinga. Hanya beberapa orang saja yang selalu merindukan wejangannya karena sangat kontemporer dan membumi. 

Parlam hadir mulai dari maghrib, tak mau ketinggalan dengan sedekah kenduri. Lha kapan lagi makan mie goreng, ikan ayam kalau tidak pas kendurian, apalagi sama gereh pethek, ikan asin kesenangannya. Wah pokoknya enak tenan. 

Pengajian diulai setelah shalat isya’. 

“Sedulur2 semua, marilah kita mulai dengan bersyukur kepada Allah, salawat salam kepada kanjeng nabi Muhammad saw. yang telah memberikan contoh konkrit untuk menjalani kehidupan ini …… demikian seterusnya sampai kepada sebuah ulasan yang bikin semua hadirin tegang. … Saya bukan tidak setuju dengan banyak2 bershalawat kepada rasul, itu sangat baik. tetapi coba sedulur2 semua hayati, shalawat itu kan kita sampaikan dengan tulus kepada seorang hamba Allah mulia. Karena kemuliaan itulah shalawat kita luncurkan. Shalawat kita bukan hanya simbolis, bukan artifisial. Sudah berapa ratus, atau berapa ribu kita ucapkan berbagai shalawat, tetapi ada berapa gelintir sifat kanjeng nabi yang kita teladani? Apa gunanya shalawat di mulut jika pola pikir kita, tingkah laku kita bahkan hati kita pun tak ada sedikit yang mencontoh kanjeng nabi? Apakah ada pertanyaan?” demikian kebiasaan kyai Rasyid kalau sedang pengajian selalu minta hadirin bertanya. 

Parlam langsung angkat tangan. “Pak Kyai, kita ini orang dusun yang tidak ngerti bahasa2 yang panjenengan gunakan. Kita tidak ngerti simbol, tidak faham artifisial. Lha ucapan salawat itu kan semuanya baik, isinya doa dan puji2an, salahnya dimana, mohon diperjelas”. 

“Jadi begini, yang namanya iman yang benar itu kan diyakini dalam hati, diucapkan dengan lisan dan ditunjukkan dengan perbuatan. Maksudnya simbol itu ya hanya jadi lambang, maksudnya artifisal itu ya cuma seolah-olah, apus-apus,jarene para pujangga “cuma bertanam tebu di bibir”. Sekali lagi saya tidak mengatakan mengucapkan shalawat itu salah, wong saya juga setiap saat bershalawat. tetapi ini sebagai bahan renungan, sebanyak apakah tindakan kita sebagai pencerminan apa yang kita baca tersebut. jangan2 shalawatnya “ngalor” tindakan kita “ngidul”, kalau masih “ngulon” ya lumayan. yang paling parah, jangan2 anak2 muda ini tidak tahu arti dan makna shalawat, wah ini bisa cilaka. kalau yang sudah tua tidak tahu shalawat … ya kebangetan … hehe” demikian gaya Kyai Rasyid kalau menyindir jamaah disertai dengan tawa, sehingga sebagian mereka ikut mesem. Dalam hati Kyai Rasyid, tujuan saya itu ngritik yang tua, kan waktu mereka sudah lewat ashar, kalau tidak sadar ya keterlaluan,apa nunggu maghrib? 

“Jadi harus bagaimana kita pak Kyai?” seolah Parlam bertanya untuk diri sendiri, padahal dia sudah tahu. 

“Jadikan rasul sebagai teladan, sebagai panutan, sebagai timbangan segala sikap dan perbuatan. Salah kata beliau, salah kata kita. benar kata beliau, benar kata kita. uswah hasanah …. sekali lagi tidak hanya di ujung2 bibir tetapi dari ujung rambut ke ujung kaki. Jelas ya sedulur2?….Ya, paling tidak semoga ada yang jelas.” 

Pengajian itupun selesai, para jamaah berebut menyalami Kyai Rasyid, entah tulus atau juga tetap artifisial, ya pantes2nya kalau sama kyai itu salaman dan cium tangan. Bahkan Parlam berbisik pada Kasman, “bagaimana tidak artifisial wong tadi mie yang kita makan untuk kendurian juga mie rasa ayam. lha ayamnya dimana?, lebih parah lagi waktu simbok masak ayam sayur pakai bumbu instan rasa AYAM, lha yang ayam yang mana, “pithik buatan Gusti Allah” yang kita potong atau ayam buatan pabrik?” 

“Sudah, jangan keras2 nanti kedengaran Kyai, lain kali saja kita tanyakan itu”. 

Jakarta, 18 feb 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: