L A R U T



mengukur panjang jalan kota yang bermandikan cahayacahaya kepalsuan
riuh rendah rumahrumah bordil berplakat salom kecantikan atau pijat tradisional
sungguh pesona kentut dan kencing anjing
taman kota nampak sekelebat pemulung kesempatan dari sela keringat dasi 
menyelinap di antara gorong-gorong bau parfum tumpahan hotel seberang
mengumpulkan kondom untuk balon mainan anakanak

ahai… sisa desah topeng poligami
ahai — ahai — kemana baju lusuh untuk di loandry
pasar kembang, doly atau trotoar trotoar
kafe kafe atau pintu terbuka saat gairah sendirian
pagi hari tertinggal sandal jepit bukan milik suami
ahai — ahai!!!

waktu telah terpenggal pisau pisau beracun 
meninggalkan busa percakapan bisnis riuh perburuan liar kota praja
lihatlah pamletpamlet tausiah memenuhi dinding kota
bersandingan posterposter perempuan bergincu segala gincu
atau ciu, opium dan baigon
sekedar membunuh waktu dan nasib
suarasuara memanggil pagi siang sore rembang malam menjelang malam
senyap ditelan gaduh nyanyian negeri entah
lantas anakanak jalanan mengerek bendera setenag tiang
entah berapa kilo nyawa yang diloakkan hari ini dan harihari selanjutnya.

ohoiiii … kemana lagi aku jumputi katakata moyangku
kalimatkalimat usang yang sungguh masih aku butuhkan
adakah jiwa jiwa kian larut
larutlah larut!!!

diam di tengah riuh perhelatan 
apalagi yang perlu aku bincang?

Tangerang, 19 – 06 – 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: