SKETAS ORANG ORANG MALAM


“Kesepian, baru patah hati yo mas..” suara gadis tanggung, tak lebih dari 15 tahun, turun dari becak dan meberikan beberapa lembar uang lima ribuan. Gadis itu sembarangan duduk berdempetan dengan lelaki yang duduk di antara beton beton bis di tepi jalan.

“Kalo ngomong, lambemu diatur disik” 

“Lha lambeku ya ada di sini to mas. Mau diatur di mana? Apa dikasih taplak trus dihiasi vas bunga gitu ya mas? Walaaah mas.. rendan yo tetep rendan.”

“Lha apa setiap orang duduk menyendiri itu selalu sedang patah hati to nduk?”

“Umume gitu kok mas. Trus mendem, minum-minuman. Sampeyan yo ngombe?”

Laki-laki itu tidak menjawab. Disemprotkan udara di mulutnya ke arah muka si mungil itu.

Mas… mambu, ra sikatan, bau, ga sikatan?. Bilang ga aja napa sich, mesti pake abab, bau mulut.”

“Halaaah biasane diklomoti yo diem saja….” Secepat kilat tangan si mungil meremas bibir lelaki itu,

”Itu bedaaaaa… itu kan lagi kerjaaaa, huuuhhh!!!. Ya kaya sampeyan kalo lagi kerja bersihin got, apa harus tutup hidung? Gituuuu?!!! Kan ya ga to masssss…” tangannya kuat-kuat muntir bibir lelaki itu. 

“Ya anggap saja sekarang kamu lagi kerja meneliti bau mulut, saya minum atau ga..”

“Mana, sini-sini…” mulut si mungil nganga berusaha menggigit bibir lelaki itu.

“Edan! Nggragas! Beton bis itu gragoti!!! Mereka cekakakan. Orang-orang yang masih berada di warung remang sebelah ikut cekakakan.

“Ga wareg to Mel, kurang kenyang?” jerit perempuan di seberang sambil ngakak.
Ya, gadis mungil itu di dunia dugem pinggiran dikenal dengan nama Melly. Tak jelas nama aslinya siapa, bahkan asal-usulnya pun tak jelas. 

“Mas, ke bedeng yuuk, tar lagi biasanya ada garukan?” tangang Melly meraih tangan lelaki itu.

“Ya biarin saja digaruk, itu jika harga diri saya sebagai warga negara ini hanya setara selembar kertas, kartu penduduk.”

“Mas, mbok jangan ngomong politik. Aku ini ga tau politik. Ga pernah makan bangku sekolah. Mase malu yo kalo ke bedeng? Saya ngerti mas, sangat ngerti. Orang-orang juga dah ngomong kalo aku ada hubungan sama mas.Padahal..”

“Biarkan saja apa kata mereka. Kemarin malam Jack, preman kampung itu juga negur, ‘lagi nungguin ya boss? Udah, kawinin aja biar ga cemburu – trus menyendiri kaya gitu,’ itu oceh Jack,”

“Lantas mase jawab apa?”

“Ya untuk apa diladeni?
“Kalo dikira beneran? Kalo emangnya saya juga seneng sama mas, gimana?

Lelaki itu tak memandang Melly, cuma mengangkat bahunya kemudian menatap tajam ke arah bola mata Melly. Ia ersipu dan merasa bersalah dengan apa yang baru saja diucapkannya. Ia menunduk, tangannya memainkan rambut yang tergerai. Tiba-tiba ia melepas sepatu. Ia lemparkan sepatu itu. Ditangkupkan kedua telapak tangannya ke wajah diiringi desah nafas yang terdengar amat berat.

“Saya tahu mas, saya tahu. Tahu siapa diriku. Aku hanya penjaja nikmat. Penjual cinta yang tidak harus merindukan cinta. Aku lahir di tempat sampah, ga tahu siapa bapa biyungku. Dan aku tak mau perduli. Juga tak mau diperdulikan. Mungkin tuhan pun merasa ga nyiptain aku. Aku anak jadah yang tak pernah tahu siapa pelakunya. Aku besar di antara tumpukan sampah.

“Tapi aku juga manusia biasa, meski penuh dosa, penuh nista. Semua mata jijik melihatku. Aku juga punya harapan, meski harapan harapan itu selalu aku bunuh kembali. Semua yang aku impikan adalah ketidakmungkinan. Hanya untuk sehelai celana loakan saja, ketika itu, ketika usiaku masih belum genap sepuluh tahun, meski dengan kebencian, jeritan, kesakitan, aku harus rela memuaskan juraganku yg menampungku sebagai pemulung atau penjaja asongan, bukan barang sendiri.

“Mulai saat itu, aku makin tak mau perduli. Pesetan dengan sopan santun, harga diri, kecewa, menangisi nasib. Tidak! Hidupku kumuh luar dalam. Hanya satu yang belum aku lakukan, maling! Ga tahu nanti.Dan aku tidak pernah menyesalinya. 

“Sejak setengah tahun ini aku mulai bosan hidup kumuh. Pakaian apa adanya. Makan apa adanya. Aku bosan! Juraganku sempat melarang ketika dia tahu apa yang aku lakukan. Bahkan mau menikahiku. Aku kian muak belas kasihan yang hanya didasarkan selangkangan. Aku siap melacur. Aku ingin seperti anak2 sebayaku. Gaul. Warung kaki lima aku tinggalkan. Jangan salah, meski aku mulai hiruk di dunia dugem, aku tak bisa minum-minuman keras. Ga tahu nanti. Aku mulai tahu hape. Mulai tahu bagaimana menggaet laki-laki melalui internet. Aku tak mau dipiara germo. Aku bebas. Sebebas-bebasnya. Aku telah menjadi serigala liar sejak kecil. Saya terbiasa kehilangan teman-teman di dunia malam. Mati kerena ditembak, karena over dosis, bagiku ga ada beda. Biasa biasa saja. Nuraniku sudah lama mati. Jiwaku adalah sampah yang berterbangan, atau mungkin sudah tak punya jiwa. Tak punya perasaan. Mase masih dengar?”

“Bicaralah! Aku mendengar.” Melly mengubah posisi duduknya. Ia bersila di depan lelaki itu. Ia tatap wajah lelaki itu.
“Kau kaget dengan apa yang aku katakana?”
“Tidak! Apa yang perlu dikagetkan? Itu kan kisah-kisah umum di novel, di sinetron, di film-film, lantas apanya yang baru? Ga ada!”

“Jadi mas ga tertarik?” dengusnya sambil meraih bungkus rokok Marlboro dari saku sweeternya

“Setiap kisah memiliki karakter ungkap yang beda, jadi tetap menarik”

Sejenak mereka terdiam. Saat Melly menyalakan batang rokoknya, lelaki itu mencambut dari mulutnya kemudian menginjak rata tanah. Mulut perempuan kecil itu menganga. Selama ia mengenal rokok, dan hanya itu, rokok itu yang senantiasa menemani dirinya, malam-malam terdampar di rumah bedeng, menganyam ribuan perasaan, belum pernah satu orang pun yang berani melakukan seperti apa yang baru saja dilakukan oleh laki-laki itu. 

Ia ingin melompat menendang laki – laki itu, persis seperti pejambret, teman kecilnya itu pernah perampas rokok yang sedang diisapnya. Kemarahan itu nampak mulai mengaliri wajah mungil yang mulai menyeringai. 

“Tak pernah aku diperlakukan seperti ini..” desisnya dalam batin. Mata liarnya mulai merayapi seluruh tubuh lelaki yang diam tanpa emosi. Ingin ia menjerit, mengaum sekeras-kerasnya. Suara itu tertelan di ujung tenggorokannya. 

Melly tak tahu, tiba-tiba ada getaran lembut namun sangat menyakitkan. Ia tak pernah merasakan desir yang begitu mengiris ulu hatinya. Tangis yang telah lama jadi dongeng bagi dirinya, terasa ada sumber lain menyediakan arusnya. Airmata telah lama tersumbat, mengapa sebatang rokok yang diinjak itu justru membuat kepedihan dan sekaligus kebahagiaan.

“Benarkah aku mulai mengenal cinta? Ah, baunya pun aku sudah sangat hapal. Parfum cinta yang menyebar di atas selembar kertas. Dengus gairah kemudian menyimpannya di laci dusta tiap lelaki dan perempuan. Aku terbiasa menyaksikan sandiwara cinta, yang juga aku perankan tiap saat. Rintihan menggoda yang aku bungkus denga kemunafikan dan sakit serta muak…” 
lengking kesakitan dalam batin Melly. Tiba-tiba ia merasa aneh, mengapa malam ini kebencian pada diri sendiri begitu menyiksa. Wajah ibu yang melahirkan yang direka-reka seperti wajahnya muncul seperti iblis yang menyeringai di depannya sambil menyebarkan lengking kebencian,

“Kelahiranmulah yang membuat petaka hidupku!!! Terkutuklah kau perempuan jahanam. Untung saat itu aku masih punya rasa hiba sehingga aku tidak tega membunuhmu!!!” 
suara-suara itulah yang memanggang jiwanya jadi porselin retak – yang setiap saat bisa melumat dirinya.

Ia masih mematung di depan lelaki itu dengan korek api masih di tangannya, sementara bungkus Marlboro yang baru dihisap tiga batang itu lumat seluruhnya di kaki lelaki itu.

Tiba-tiba jiwanya seperti berada di atas bara api kebencian yang beraduk dengan perasaan yang sama sekali tidak ia mengerti. Ditariknya rambut lelaki itu sekuat tenaga. Ditendang dan ditamparnya muka lelaki itu sekuat kuatnya. Dadanya kian terasa gemuruh, Wajahnya merah padam. Lelaki itu tak beringsut. Dibiarkan saja tendangan dan pukulan yang bertubi-tubi menghujani tubuhnya.

“Mengapa kau melarangku?!!! Mengapa??!! Jawab! Apa hakmu, apa!!! Rokok itu pake duit, bukan boleh dari ngemis!!! Itu uang dari keringat! Meski itu zinah kata orang. Tapi bung, sesunguhnya yang zinah saya atau mereka?!! Saya atau mereka!!!” jerit Melly membelah dingin pagi yang mulai menusuk.

“Ya, uang itu dari mengemis! Hidup yang kamu bayar mahal! Kamu telah lama mengkhianati suara hatimu. Kamu telah memenjarakan dirimu sendiri. Bukan siapa siapa. Kamu sendiri. Kamu terlalu sombong terhadap hidupmu sendiri dan kamu bungkus dengan kain rombeng. Kamu telah bermain terlalu congkak. Bermain dengan hidup dan kehidupanmu. Kamu telah berada di tebing yang sangat curam. Sebentar lagi kamu akan lenyap.

“Kamu merasa hebat. Bermodal penderitaan di tengah kekerasan dan merasa tersingkirkan, kamu larut dalam ketidakberdayaan. Kau pikir kau kuat? Kau pikir kau hebat? Kau pikir kau bebas? Tidak! Sama sekali tidak! Kau adalah manusia terlemah dan terbelenggu, terdungu di dunia ini. Langkahmu hanya sejengkal. Tak jauh. Pandanganmu pun tak lebih jauh dari selangkah anak kecil. Tak kemana-mana!

“Jiwamu telah lama mati. Kau bunuh sendiri. Benar, kamu sudah tak bernyawa. Kamu adalah bayang-bayang kehidupan yang menyedihkan. Kamu adalah serpihan sampah yang justru dirimu sendiri yang menyerpih serpih tiap hari. Untuk apa kamu bertahan hidup. Ini pisau! Potong nadimu! Selesai! Tidakkah setiap kali kau ingin mengakhiri hidupmu? Lakukan, aku ingin melihat kau menggelepar-gelepar dan tersiksa ingin hidup kembali sesaat nyawamu sudah di tenggorokan. Antara sadar dan sekarat kamu ingin menyaksikan bagaimana orang-orang bersedih, menaruh belas kasihan, menangis, meneteskan airmata, memelukmu sebagai tanda kasih saying. Itu yang selama ini memenjarakan kamu. Dipenjara oleh keinginan untuk diperhatikan, untuk disayang. Bukan karena keinginan kamu mampu memenuhi kebutuhanmu seperti orang gedongan.

“Jika kau merasa kuat, mengapa masih menyalahkan orang yang melahirkan kamu? Benarkah sifat ibumu yang kamu reka lantaran kebencianmu itu adalah benar-benar seperti itu. Ketahuilah anak ingusan, jika kamu tadi bertanya, ‘siapa diantara kamu dan yang membeli nikmat darimu yang pantas disebut sebagai przinah? Kamu, yang lebih pantas disebut sebagai pezinah. Kamu yang menyediakan dagangan zinah itu, Jika kamu tak jualan zinah, maka tak ada warung zinah. Ngerti!!!

“Melly, hidup ini bukan surga. Hidup ini pabrik masalah. Hidup ini memproduksi risiko. Seseunguhnya kau bukan takut mati, tapi kau takut hidup. Kau takut menanggung risiko. Kau takut berhadapan dengan masalah. Kau cerdas membela dirimu dengan mengatakan, bahwa dirimu sudah jadi batu karang. Betul, batu karang yang yang mengubur hidupmu sendiri. Kau tidak hanya lemah, tapi kamu pecundang. Menyundangi dirimu sendiri.”

Pagi terus merambat. Sesak dada Melly telah menumpahkan genangan airmata yang selama ini ditahan didalam bendungannya. Ia lemas terkulai di pangkuan lelaki itu. Cahaya lembut pagi – embun yang masih bergantung di rerimbun pepohanan mewartakan kisah-kisah lain dan hidup berjalan kembali dengan berbagai aromanya.

Tammat.

Note: 
rendan = kere berdandan
ngombe = minum (minuman-minuman keras/istilah jawa)

Tangerang, 00:14, 17 Juni 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: